KAB.CIREBON, (FC).- Kebakaran lahan menjadi ancaman terbesar selama musim kemarau di Kabupaten Cirebon.

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) mencatat sebanyak 251 kejadian kebakaran terjadi sepanjang Januari hingga Agustus 2026, dengan 132 kasus di antaranya merupakan kebakaran lahan, sampah, dan alang-alang.

Bahkan, pada Agustus 2026 saja, tercatat sebanyak 63 kejadian kebakaran lahan yang terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Cirebon.

Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Disdamkarmat Kabupaten Cirebon, Eno Sujana, mengatakan kondisi cuaca kering saat puncak musim kemarau menjadi salah satu faktor meningkatnya potensi kebakaran lahan.

“Memasuki puncak musim kemarau, potensi kebakaran lahan memang meningkat cukup signifikan. Kami mengimbau masyarakat tidak membakar sampah sembarangan maupun membuka lahan dengan cara dibakar karena api mudah merambat dan sulit dikendalikan,” ujar Eno, Selasa (1/9).

Selain kebakaran lahan, Disdamkarmat juga mencatat 79 kejadian kebakaran rumah, 14 kebakaran toko, dan 14 kebakaran pabrik selama periode tersebut.

Menurut Eno, pencegahan menjadi langkah utama untuk menekan angka kebakaran. Masyarakat diminta memastikan instalasi listrik aman, tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan, serta segera melapor apabila menemukan potensi kebakaran.

Di sisi lain, Disdamkarmat Kabupaten Cirebon juga menangani ratusan kejadian penyelamatan non-kebakaran. Hingga Agustus 2026, tercatat 690 layanan rescue telah dilakukan petugas.

Evakuasi sarang tawon menjadi layanan terbanyak dengan 431 kejadian, disusul evakuasi ular sebanyak 170 kejadian.

“Petugas kami tidak hanya menangani kebakaran, tetapi juga berbagai operasi penyelamatan yang langsung dibutuhkan masyarakat, mulai dari evakuasi hewan liar hingga kondisi darurat lainnya,” katanya.

Eno menegaskan, Disdamkarmat terus meningkatkan kesiapsiagaan personel dan sarana prasarana untuk menghadapi berbagai potensi bencana maupun keadaan darurat.

“Kami mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan kepedulian terhadap lingkungan. Pencegahan menjadi kunci utama mengurangi risiko kebakaran,” pungkasnya. (Johan)