KAB.CIREBON, (FC).- Kekeringan mulai mengancam lahan pertanian di Kabupaten Cirebon. Hingga Selasa (1/9), tercatat 595,1 hektare sawah terdampak kekeringan yang tersebar di 32 desa pada 13 kecamatan.

Dari total lahan terdampak, sebanyak 415,9 hektare mengalami kekeringan ringan, 175 hektare kategori sedang dan 4,2 hektare dalam kondisi berat.

Bahkan, Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon memperkirakan sekitar 20 hingga 30 hektare berpotensi mengalami gagal panen atau puso.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Deni Nurcahya, mengatakan potensi puso saat ini masih dalam pemantauan petugas di lapangan.

Sejumlah laporan telah diterima dari beberapa wilayah, di antaranya Kecamatan Ciwaringin dan Beber.

“Potensi puso kemungkinan sekitar 20 hektare atau 30 hektare ada. Beberapa sudah ada laporan di Ciwaringin, Beber juga ada sebagian. Mudah-mudahan bisa segera tertanggulangi,” kata Deni, Selasa (1/9).

Menurutnya, kekeringan terjadi akibat penurunan debit air secara drastis. Kondisi tersebut semakin menyulitkan petani di wilayah yang tidak memiliki sumber air alternatif.

Wilayah terdampak meliputi Kecamatan Sedong, Mundu, Beber, Palimanan, Plered, Tengahtani, Gunung Jati, Klangenan, Ciwaringin, Gempol, Susukan, Suranenggala dan Jamblang.

Mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan, Dinas Pertanian telah menyiapkan ratusan pompa untuk membantu mengairi lahan yang masih memiliki sumber air.

Deni menyebut sebanyak 120 unit pompa berkapasitas 6 inci telah disiapkan. Selain itu, tersedia pompa 3 inci dan 20 unit pompa 4 inci yang dapat digunakan untuk membantu pengairan lahan terdampak.

“Untuk persiapan kekeringan kita sudah siapkan pompa 6 inci sebanyak 120 buah. Ada juga pompa 3 inci dan pompa 4 inci sebanyak 20 buah,” ujarnya.

Intervensi juga dilakukan melalui pembangunan irigasi perpompaan di sejumlah titik. Salah satunya di Blok Kayen, Desa Susukan, Kecamatan Susukan, yang memiliki areal sawah sekitar 309 hektare.

Di lokasi tersebut, pemerintah memasang pompa dan jaringan pipa sepanjang 2,2 kilometer yang mengambil sumber air dari Saluran Rentang Kanan. Langkah serupa dilakukan di wilayah Geyongan dengan pemasangan pompa sentrifugal dan jaringan pipa sepanjang 1,5 kilometer.

“Kalau ada sumber airnya, kita lakukan perpompaan. Minggu ini irigasi perpompaan juga sedang dipasang di 40 titik,” jelas Deni.

Untuk wilayah yang tidak memiliki sumber air permukaan, pemerintah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) melalui program penyediaan air tanah menggunakan sumur bor.

Namun, upaya tersebut tidak bisa dilakukan sembarangan karena harus terlebih dahulu diketahui potensi air tanahnya.

“Tidak mesti daerah yang kekeringan atau tidak ada irigasinya itu air tanahnya ada. Harus dicek dulu sumber air tanahnya,” katanya.

Deni mencontohkan Kecamatan Sedong yang cukup sulit mendapatkan sumber air tanah. Kondisi tanah di wilayah tersebut cenderung lempung sehingga pengeboran sebelumnya tidak selalu menghasilkan sumber air.

Selain penanganan darurat, Dinas Pertanian menilai perubahan pola tanam menjadi langkah penting untuk menghadapi kekeringan yang berulang.

Menurut Deni, wilayah yang secara rutin mengalami kekeringan perlu mengatur waktu tanam agar masa pertumbuhan tanaman tidak bertepatan dengan periode kemarau panjang.

“Upaya jangka panjangnya percepatan tanam. Saat awal musim hujan harus lebih dulu tanam, sehingga musim kedua tidak jatuh pada kemarau yang panjang,” jelasnya.

Ia menilai ketersediaan sumber air menjadi faktor utama. Jika sumber air tidak memungkinkan untuk diandalkan, strategi waktu tanam menjadi pilihan paling realistis untuk meminimalkan risiko gagal panen.

Di sisi lain, persoalan semakin berat karena pada 2026 Kabupaten Cirebon tidak memperoleh alokasi Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

Kondisi tersebut membuat petani tidak memiliki perlindungan asuransi apabila tanaman mengalami gagal panen akibat kekeringan.

“Untuk tahun ini kita tidak dapat alokasi AUTP. Jadi kalau terjadi gagal panen, petani tidak mendapatkan penggantian untuk tanam kembali,” ungkap Deni.

Meski demikian, Dinas Pertanian masih membuka opsi pengusulan bantuan benih bagi petani yang mengalami gagal panen untuk digunakan pada musim tanam berikutnya.

Pemerintah daerah berharap penanganan melalui pompanisasi, pembangunan jaringan irigasi serta pengaturan pola tanam dapat menekan dampak kekeringan sekaligus mencegah meluasnya lahan pertanian yang mengalami puso. (Ghofar)