Pertigaan Jalan Perjuangan – Terusan Bima Akan Dipasang Lampu Merah
KOTA CIREBON, (FC).- Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Cirebon sudah melakukan pemetaan terkait dengan peningkatan volume kendaraan di beberapa titik persimpangan maupun pertigaan.
Hasilnya, sedikitnya dua titik menjadi fokus Dishub untuk mengkaji sistem pengurai tumpukan kendaraan, terutama di jam-jam sibuk.
Dua titik tersebut adalah persimpangan Kalijaga, di Kelurahan Kalijaga, Harjamukti, dan pertigaan jalan Perjuangan-Terusan Bima depan Kampus Untag di Kecamatan Kesambi.
Salah satu opsi yang paling memungkinkan, Dishub akan memasang Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) atau lampu merah di dua titik tersebut.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Cirebon, Gunawan ATD DEA mengungkapkan, opsi memasang APILL di dua titik tersebut perlu melalui tahap kajian, meskipun dari kasat mata, kedua persimpangan tersebut dinilai sangat membutuhkan pengaturan lalu lintas yang lebih optimal.
“Pemasangan APILL perlu melalui kajian terlebih dahulu. Kalau dilihat secara kasat mata, simpang tiga Untag dan simpang empat Kalijaga Permai memang menjadi titik yang berpotensi untuk dipasang APILL. Namun, keputusan akhirnya tetap berdasarkan hasil kajian teknis,” ungkap Gunawan, Rabu (24/6).
Untuk mengurai kepadatan lalu lintas di persimpangan, dijelaskan Gunawan, ada beberapa opsi yang bisa diterapkan, dan itu bersifat tahapan.
Pertama adalah dengan pemasangan rambu-rambu lalu lintas untuk mengatur pergerakan kendaraan.
Apabila keberadaan rambu belum mampu mengatasi kepadatan maupun potensi konflik lalu lintas, maka tahap berikutnya adalah menempatkan petugas pengatur lalu lintas di lokasi tersebut.
“Kalau dengan rambu masih memungkinkan, maka itu yang diprioritaskan. Jika ternyata tidak cukup efektif, baru ditempatkan petugas pengaturan,” jelas Gunawan.
Jila setelah ditempatkan petugas tetap masih belum terurai, maka perlu pengaturan lalu lintas secara permanen dengan APILL.
Meskipun opsi yang paling dibutuhkan adalah pemasangan APILL, kata Gunawan, tetap perlu diawali dengan perencanaan, karena pemasangannya berkaitan dengan anggaran yang cukup besar.
Kebutuhan anggaran untuk pembangunan jaringan dan instalasi APILL konvensional terbilang cukup besar.
Untuk pertigaan Untag diperkirakan membutuhkan dana minimal sekitar 500 juta, sementara untuk persimpangan Kalijaga Permai, kebutuhan anggarannya mencapai sekitar 750 juta, itupun jika menggunakan APILL konvensional yang belum berkategori smart APILL.
Berbeda jika menggunakan teknologi smart traffic light yang mampu menyesuaikan durasi lampu berdasarkan kondisi lalu lintas secara real time, biaya yang dibutuhkan jauh lebih tinggi.
Dengan teknologi ini, pertigaan Untag akan membutuhkan anggaran sekitar 1,2 milyar, dan untuk persimpangan Kalijaga Permai membutuhkan anggaran sekitar 1,4 milyar.
“Kita kaji dan usulkan, mudah-mudahan tahun depan bisa direalisasikan,” kata Gunawan. (Agus)



Tinggalkan Balasan