Dari Sawah jadi Destinasi, Strategi “Nyentrik” Kuwu Rusnadi Ubah Matangaji jadi Desa Wisata
KAB.CIREBON, (FC).‐ Perubahan signifikan terlihat di Desa Matangaji, Kecamatan Sumber. Jalan yang sebelumnya lengang kini ramai aktivitas ekonomi, seiring berkembangnya kawasan wisata kolam renang Cikomboy yang menjadi magnet baru bagi pengunjung.
Di balik transformasi tersebut, terdapat peran Kuwu Matangaji, Rusnadi, yang dikenal dengan gaya kepemimpinan tidak konvensional. Berbekal pendekatan berbasis potensi lokal, ia mendorong pembangunan desa wisata dari nol, meski sempat diragukan.
“Kalau desa ingin maju, harus berani mencoba hal baru, tidak hanya menunggu,” ujar Rusnadi, Minggu (22/3).
Objek Wisata Cikomboy dibangun melalui pemanfaatan dana desa dan Pendapatan Asli Desa (PADes). Meski berlokasi di area persawahan, destinasi ini kini berkembang pesat dan mampu menarik ribuan pengunjung, terutama saat libur panjang seperti Lebaran.
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari strategi pemberdayaan masyarakat. Pemerintah desa memberi ruang bagi warga untuk membuka usaha kuliner dan jasa di sekitar kawasan wisata, serta melibatkan pemuda dalam pengelolaan operasional.
“Bukan hanya membangun wisata, tetapi bagaimana ekonomi warga ikut bergerak,” katanya.
Dampaknya mulai dirasakan. Aktivitas ekonomi meningkat, lapangan kerja terbuka, dan perputaran uang di desa mengalami kenaikan signifikan. Sektor wisata bahkan menjadi salah satu penyumbang utama PADes.
Selain itu, pembangunan infrastruktur desa turut terdorong, mulai dari perbaikan jalan hingga peningkatan fasilitas umum. Warga pun merasakan langsung perubahan tersebut.
“Sekarang desa lebih hidup, banyak warga yang ikut merasakan manfaatnya,” ujar warga setempat, Agus Zaenudin.
Atas capaian tersebut, Desa Matangaji ditetapkan sebagai salah satu desa wisata unggulan di Kabupaten Cirebon.
Pengakuan ini memperkuat bahwa pembangunan berbasis potensi lokal dan partisipasi masyarakat dapat menjadi model pengembangan desa.
Meski demikian, Rusnadi mengakui tantangan ke depan tidak ringan, terutama dalam menjaga konsistensi dan meningkatkan kualitas layanan wisata.
“Yang sulit itu mempertahankan. Kami harus terus berinovasi agar tetap berkembang,” ujarnya.
Transformasi Desa Matangaji menjadi bukti bahwa keberanian mengambil langkah berbeda, disertai pelibatan masyarakat, mampu mendorong pertumbuhan desa dari pinggiran menjadi pusat aktivitas ekonomi baru. (Johan)



Tinggalkan Balasan