KUNINGAN, (FC).- Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) membeberkan data resmi debit air dan pemanfaatannya di tiga mata air utama kawasan Gunung Ciremai, yakni Talaga Nilem, Talaga Remis, dan Cipujangga.

Data ini menjadi dasar perizinan sekaligus pengawasan pemanfaatan air di kawasan konservasi tersebut.

Humas BTNGC, Ady Sularso, menyampaikan bahwa Talaga Nilem memiliki debit air 96 liter per detik.

Dari jumlah tersebut, alokasi pemanfaatan terbagi untuk PDAM Kuningan sebesar 9,6 liter per detik, TRJ 5 liter per detik, dan KPK 4,6 liter per detik.

Sementara itu, Talaga Remis tercatat sebagai mata air dengan debit terbesar, yakni 278 liter per detik.

Debit tersebut dimanfaatkan oleh PDAM Kuningan sebesar 27,8 liter per detik dan Indocement sebesar 26,20 liter per detik.

Adapun mata air Cipujangga memiliki debit 147 liter per detik, dengan alokasi pemanfaatan untuk PDAM Kuningan sebesar 14,7 liter per detik dan Kabupaten Cirebon sebesar 14,7 liter per detik.

“Ini data yang kami pakai sebagai dasar pengawasan dan perizinan pemanfaatan air di kawasan TNGC,” ujar Ady saat dihubungi melalui pesan WhatsApp, Senin (26/1).

Ady menjelaskan, setiap pemegang izin komersial wajib melaporkan penggunaan debit air setiap bulan kepada BTNGC.

Laporan tersebut dilengkapi foto awal dan akhir bulan, data geotag, serta pencatatan water meter sebagai bagian dari mekanisme pengawasan.

“Setiap bulan harus ada laporan. Untuk penggunaan komersial, tagihan langsung dari pusat, yakni Kementerian Kehutanan,” jelasnya.

Namun, khusus untuk PDAM Kuningan, Ady mengungkapkan bahwa laporan rutin yang saat ini baru diterima BTNGC berasal dari pemanfaatan mata air Kopi Bojong Palutungan.

Sementara laporan pemanfaatan dari Talaga Nilem dan Talaga Remis masih dalam proses penyesuaian data administrasi.

“Untuk PDAM Kuningan, laporan yang rutin masuk ke kami baru dari sumber mata air Kopi Bojong Palutungan,” ungkapnya.

Terkait kebutuhan air Kabupaten Indramayu yang disebut mencapai sekitar 405 liter per detik, Ady mengaku BTNGC tidak memiliki data teknis detail mengenai pemenuhan kebutuhan tersebut.

“Kami tidak tahu. Ikatan kami hanya dengan PDAM Kuningan. Bisa saja kekurangan debit untuk Indramayu diambil dari sumber air di luar kawasan TNGC,” ujarnya.

Pernyataan ini sekaligus memunculkan pertanyaan publik mengenai dari mana sebenarnya pasokan air ratusan liter per detik untuk Indramayu dipenuhi, di tengah keterbatasan debit yang diizinkan dari kawasan konservasi Gunung Ciremai.

Menanggapi kondisi Desa Cikalahang, Kabupaten Cirebon, yang mengaku mengalami kekurangan air bersih, Ady menyebut bahwa persoalan tersebut telah mendapat perhatian serius dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

“Menindaklanjuti hal ini, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menugaskan dilakukan pendataan penggunaan dan kebutuhan air masyarakat. Nanti kita lihat hasil pendataan dimaksud seperti apa,” katanya.

Ady menegaskan, BTNGC tetap berpegang pada prinsip bahwa pemanfaatan air untuk kepentingan komersial dibatasi maksimal 20 persen dari total debit mata air, sebagai upaya menjaga keseimbangan ekologi kawasan konservasi.

“Intinya kami berpedoman bahwa maksimal air untuk komersial hanya 20 persen,” pungkasnya. (Angga)