KAB.CIREBON, (FC).- RSUD Waled Kabupaten Cirebon menjalani penilaian akreditasi oleh Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS), Selasa (3/11).

Evaluasi tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan standar mutu pelayanan dan keselamatan pasien terus terjaga.

Proses penilaian berlangsung di salah satu hotel di Kecamatan Kedawung dan dihadiri Bupati Cirebon, H. Imron.

Dalam kegiatan tersebut, Imron bersama Sekretaris Daerah Kabupaten Cirebon, Hendra Nirmala, juga menjalani wawancara dengan tim penilai terkait kebijakan pemerintah daerah dalam mendukung peningkatan pelayanan rumah sakit.

Imron mengatakan, sejumlah hal yang dibahas dalam wawancara meliputi kebijakan peningkatan layanan kesehatan, langkah pembenahan rumah sakit, hingga pengelolaan sumber daya manusia (SDM).

“Yang ditanyakan berkaitan dengan masalah rumah sakit, langkah-langkah dan kebijakan pemerintah daerah dalam meningkatkan pelayanan, termasuk SDM-nya. Tadi saya diwawancarai bersama Pak Sekda, dan beliau juga diwawancarai oleh tim akreditasi,” ujar Imron.

Direktur RSUD Waled, dr. Deni Wirhana Surjono, menjelaskan akreditasi merupakan instrumen untuk mengukur kesesuaian pelayanan rumah sakit dengan standar mutu dan keselamatan pasien.

Penilaian dilakukan secara berkala dengan mengevaluasi berbagai aspek, mulai dari prosedur pelayanan, keselamatan pasien, hingga penanganan medis.

“Ini adalah standar baku mutu pelayanan. Jadi, pelayanan yang dilaksanakan rumah sakit harus mengutamakan mutu yang terbaik. Setiap empat tahun sekali kami dinilai berdasarkan standar-standar yang ada, termasuk keselamatan pasien dan evaluasi prosedur pelayanan,” jelas Deni.

Menurutnya, penilaian dilakukan lembaga independen melalui sejumlah instrumen yang hasilnya diajukan kepada Kementerian Kesehatan untuk penetapan klasifikasi mutu rumah sakit.

Deni menyebut, RSUD Waled selama ini telah meraih predikat paripurna atau bintang lima. Pihaknya berharap hasil penilaian kali ini kembali memberikan hasil terbaik.

Namun, setiap catatan kekurangan akan dijadikan bahan pembenahan agar kualitas pelayanan terus meningkat.

Ia juga menegaskan, keberadaan sejumlah rumah sakit baru di wilayah Cirebon Timur bukan sebagai pesaing, melainkan mitra dalam memperluas jangkauan pelayanan kesehatan.

Dengan jumlah penduduk Cirebon Timur yang mendekati satu juta jiwa, menurutnya, setiap rumah sakit perlu saling melengkapi sesuai kapasitas dan fasilitas yang dimiliki.

RSUD Waled, kata Deni, memiliki klasifikasi pelayanan lebih tinggi dengan dukungan fasilitas dan tenaga medis spesialis yang belum seluruhnya tersedia di rumah sakit tipe C. Dengan demikian, RSUD Waled dapat menjadi rujukan bagi pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

“Bagi kami, bukan persaingan, melainkan kolaborasi dan saling melengkapi. Ketika rumah sakit tipe C memiliki keterbatasan tempat tidur atau fasilitas tertentu, kami harus mampu memberikan pelayanan lanjutan. Begitu juga dengan ketersediaan alat kesehatan dan SDM spesialis,” ungkapnya.

Deni menambahkan, RSUD Waled telah menjalani penilaian akreditasi sebanyak tujuh kali selama kurang lebih 28 tahun. Ia berharap evaluasi kali ini semakin memperkuat komitmen rumah sakit dalam menjaga standar pelayanan.

“Target utamanya bukan sekadar predikat, melainkan bagaimana masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang semakin baik,” pungkasnya. (Ghofar)