KOTA CIREBON, (FC).- Direktur Rumah Sakit Daerah (RSD) Gunung Jati Cirebon, dr. Katibi, mengungkapkan rencana pengembangan RSD Gunung Jati sebagai destinasi wisata medis yang tidak hanya mengedepankan layanan kesehatan berkualitas, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Kota Cirebon.
Menurut dr. Katibi, gagasan wisata medis ini didasari oleh potensi heritage yang dimiliki RSD Gunung Jati, khususnya bangunan depan yang bernilai sejarah tinggi.
“Arah pengembangannya adalah menjadikan rumah sakit ini sebagai destinasi wisata medis. Konsepnya mencakup pra-pelayanan, pelayanan, dan pasca-pelayanan,” jelasnya, Senin (19/5).
Ia menjelaskan, dalam tahap pra-pelayanan, masyarakat dari luar daerah seperti Indramayu, Jakarta, Purwokerto, hingga Yogyakarta yang ingin berobat ke Cirebon, akan membutuhkan akomodasi seperti transportasi, penginapan, dan makanan khas Cirebon.
Hal ini secara langsung memberikan dampak ekonomi kepada sektor-sektor pendukung di Kota Cirebon.
Pada tahap pelayanan, RSD Gunung Jati menawarkan fasilitas medis yang lengkap, baik dari segi sumber daya manusia, peralatan medis, maupun material penunjang.
“RSD Gunung Jati termasuk yang cukup lengkap di wilayah Ciayumajakuning. Bahkan, pasien dari Subang hingga Pekalongan memilih datang ke sini karena kualitas layanan kami,” ujar dr. Katibi.
Sementara dalam tahap pasca-pelayanan, pasien yang hendak kembali ke daerah asal masih memiliki peluang untuk menikmati budaya dan kuliner lokal, serta berbelanja produk-produk UMKM.
“Dari mulai sebelum datang, saat dirawat, hingga pulang, semuanya bisa memberi efek ekonomi yang baik bagi masyarakat,” tambahnya.
Lebih lanjut, dr. Katibi menekankan pentingnya penguatan sistem rujukan terintegrasi antarwilayah.
“Tidak hanya ke Bandung atau Semarang, pasien dari Subang atau Pekalongan pun bisa diarahkan ke Cirebon. Ini yang ingin kita kembangkan dengan konsep wisata medis, agar pelayanan lintas wilayah lebih optimal,” ujarnya.
dr Katibi menambahkan, dengan pendekatan ini, RSD Gunung Jati tak hanya menjadi pusat layanan kesehatan unggulan, tetapi juga motor penggerak ekonomi lokal melalui kolaborasi antara sektor kesehatan dan pariwisata. (Agus)














































































































Discussion about this post