KOTA CIREBON, (FC).- Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Cirebon menghadirkan Kapal Layar Tiang Tinggi, KRI Dewaruci di Pelabuhan Cirebon, pada 14-18 Oktober 2026 untuk mengenalkan alutsista TNI AL dan sejarah kemaritiman Indonesia kepada masyarakat.

Komandan Lanal Cirebon Letkol Laut (P) Mizar Hanoeng mengatakan, kehadiran kapal layar legendaris tersebut merupakan bagian dari pembinaan teritorial sekaligus upaya memperluas wawasan masyarakat mengenai dunia maritim.

“Kehadiran Dewaruci di sini dalam rangka kita melaksanakan pembinaan teritorial, kemudian juga memberikan wawasan kepada masyarakat Kota Cirebon untuk lebih mengenal lagi alutsista TNI AL dan maritim Indonesia,” katanya, Rabu (14/10).

Ia menjelaskan KRI Dewaruci datang dari Jakarta dan dijadwalkan bersandar selama enam hari untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat melihat langsung kapal yang memiliki sejarah panjang dalam pengabdian kepada Indonesia.

Lanal Cirebon pun membuka kegiatan open ship bagi masyarakat umum, sekolah, pelajar, dan komunitas agar mereka dapat mengunjungi kapal sekaligus memperoleh penjelasan mengenai sejarah KRI Dewaruci.

Mizar mengatakan kunjungan tersebut tidak dipungut biaya alias gratis, sehingga masyarakat dapat mengikuti kegiatan itu tanpa harus mengeluarkan uang untuk masuk ke kapal.

Selama kunjungan, lanjut dia, masyarakat dapat melihat langsung bagian kapal dan mendapatkan penjelasan mengenai sejarah KRI Dewaruci, termasuk perjalanan panjang kapal tersebut dalam menjalankan tugasnya.

Mizar mengatakan KRI Dewaruci memiliki daya tarik tersendiri, karena bentuk kapal layarnya unik dan sejarah pelayarannya telah dikenal hingga tingkat internasional.

“Yang menarik, kapal ini adalah kapal latih Angkatan Laut yang memang tidak semua negara bisa memiliki kapal ini, bisa dilihat sendiri dari bentuknya yang unik,” katanya.

Sementara itu, Komandan KRI Dewaruci Letkol Laut (P) Nana Mashina menjelaskan, kapal ini dibuat di Jerman Barat pada 1952 dan resmi masuk jajaran TNI AL pada 24 Januari 1953.

Ia menuturkan KRI Dewaruci digunakan sebagai kapal latih taruna Akademi Angkatan Laut hingga fungsi tersebut kemudian diteruskan oleh KRI Bima Suci pada 2017, setelah kapal baru itu hadir sebagai penerus sarana latihan pelayaran.

“Dalam sejarah pelayarannya, KRI Dewaruci telah dua kali mengelilingi dunia, yakni pada 1964 dan 2012 serta ditetapkan sebagai cagar budaya nasional pada 2023. Sejak awal, KRI Dewaruci digunakan sebagai kapal latihan praktik bagi para taruna calon perwira TNI AL. Peran itu dijalankan selama puluhan tahun, hingga 2014 ketika tugas pelatihan mulai beralih,” jelasnya.

Dalam perjalanan sejarahnya, KRI Dewaruci juga mencatatkan prestasi dengan dua kali melakukan pelayaran keliling dunia, yakni pada 1964 dan 2012.

Selain pelayaran keliling dunia, kapal ini rutin menjalankan misi pelayaran ke luar negeri untuk mendukung kegiatan latihan praktik. Rute yang ditempuh berbeda setiap tahunnya, mulai dari kawasan Asia, Eropa, hingga Amerika.

Perjalanan tersebut tidak hanya menjadi sarana pembelajaran navigasi dan pelayaran bagi para taruna, tetapi juga memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat internasional.

“KRI Dewaruci sendiri memiliki sejarah tersendiri dalam perjalanan awalnya dari Jerman Barat menuju Indonesia. Kapal tersebut pertama kali dikomandani Letkol Pelaut (Purn.) August Friederich Hermann Rosenow, yang memiliki keturunan Jerman dan kemudian menjadi warga negara Indonesia,” katanya.

Setelah puluhan tahun digunakan sebagai kapal latih utama, fungsi pelatihan praktik taruna mulai dialihkan pada 2014. Dalam masa transisi hingga 2017, kegiatan latihan menggunakan kapal jenis Landing Platform Dock (LPD) buatan Indonesia.

Tongkat estafet kemudian diteruskan oleh KRI Bimasuci yang mulai hadir pada 2017 sebagai kapal latih bagi taruna TNI AL.

Meski demikian, keberadaan KRI Dewaruci tidak lantas berakhir. Kapal bersejarah tersebut tetap dimanfaatkan untuk kegiatan latihan praktik, termasuk bagi peserta dari kalangan sipil dalam program-program tertentu.

Menurut Nana, KRI Dewaruci juga pernah dilibatkan dalam program kebudayaan yang membawa perwakilan masyarakat dari berbagai provinsi di Indonesia.

Pada periode 2016–2017, kapal ini digunakan dalam kegiatan yang melibatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Setiap provinsi mengirimkan dua orang perwakilan untuk mengikuti pelayaran sekaligus memperkenalkan kebudayaan daerah di sejumlah tempat persinggahan kapal.

Program serupa kembali dijalankan pada 2023–2024 melalui kegiatan Muhibah Jalur Rempah. Dalam kegiatan tersebut, KRI Dewaruci menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara, sekaligus mengangkat kembali sejarah jalur rempah yang berperan penting dalam perjalanan maritim Indonesia.

“Selain memiliki fungsi dalam dunia pendidikan dan pelayaran, kapal ini juga menjadi sarana untuk mengenalkan keberagaman budaya Indonesia kepada masyarakat di berbagai daerah maupun negara yang kami kunjungi,” ungkap Nana. (Agus)