KUNINGAN, (FC).- Isu krisis iklim dan dugaan kerusakan lingkungan di kawasan penyangga lereng Gunung Ciremai menjadi sorotan utama dalam Seminar Se-Ciayumajakuning bertema “Hablum Minal ‘Alam di Era Krisis Iklim” yang digelar di Aula Kampus 1 Universitas Islam Al Ihya (UNISA) Kuningan, Sabtu (03/01).
Kegiatan yang digagas Badan Legislatif Mahasiswa UNISA itu diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Ciayumajakuning. Seminar ini menjadi ruang konsolidasi intelektual mahasiswa dalam merespons krisis iklim yang dinilai kian nyata dan berdampak luas, tidak hanya secara ekologis, tetapi juga sosial, ekonomi, hingga moral.
Ketua BLM UNISA Kuningan, Deden Ahmad Nur’alim Husaeni, menegaskan bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran ekologis berbasis nilai keilmuan dan keislaman. Menurutnya, konsep hablum minal ‘alam harus menjadi pijakan etis dalam memandang relasi manusia dengan alam.
“Krisis iklim adalah persoalan global yang menuntut tanggung jawab moral dan intelektual. Mahasiswa sebagai agen perubahan harus mampu mendorong kesadaran lingkungan, baik melalui edukasi, advokasi kebijakan, maupun aksi nyata yang berpijak pada nilai-nilai Islam,” ujarnya.
Diskusi seminar berlangsung dinamis ketika isu dugaan pengerukan tanah dan penebangan pohon di kawasan milik pribadi yang berada di zona penyangga hutan Ciremai mencuat ke permukaan. Seorang mahasiswa UNISA, M. Hilmi, secara terbuka mempertanyakan aktivitas tersebut dan dampak ekologis yang berpotensi ditimbulkan.
“Dari pemantauan kami, bukan hanya pohon kaliandra yang ditebang, tetapi juga pohon-pohon besar. Jika kemudian ditanami kembali dengan jenis lain, apakah itu masih bisa disebut reboisasi? Dan jika memicu bencana, bagaimana tanggung jawab moralnya?” ujarnya kritis.
Menanggapi hal tersebut, akademisi Kuningan sekaligus narasumber seminar, Pandu Hamzah, menegaskan bahwa mahasiswa dan masyarakat tidak boleh diam menghadapi potensi kerusakan lingkungan.
“Kawal terus dan bersuaralah. Bisa melalui forum diskusi, media, atau dialog langsung. Eksploitasi alam yang merusak ekosistem bisa dilakukan oleh siapa pun, baik individu, korporasi, bahkan melalui kebijakan yang keliru,” tegasnya.
Pandu juga menyinggung paradoks kesalehan ekologis, di mana kesalehan personal tidak selalu sejalan dengan praktik bisnis atau kebijakan terhadap alam. Menurutnya, tanpa kesadaran ekologis yang kuat, alam kerap direduksi hanya sebagai sumber keuntungan.
Sorotan serupa disampaikan narasumber lain, Andini Rahmawati, yang mengkritisi praktik pemulihan lingkungan yang justru diawali dengan perusakan kawasan hijau.
“Reboisasi itu mulia, tetapi caranya tidak boleh merusak. Jika dalihnya pemulihan namun diawali dengan membuka lahan yang sebelumnya sudah hijau dan asri, ini patut dipertanyakan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa upaya konservasi harus dibarengi dengan pemilihan vegetasi yang memiliki fungsi ekologis kuat, terutama untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan sumber mata air, bukan sekadar bernilai estetika atau ekonomi.
Melalui seminar ini, BLM UNISA Kuningan berharap terbangun jejaring dan kolaborasi antarmahasiswa lintas daerah untuk membentuk gerakan bersama dalam menghadapi krisis iklim secara konstruktif, berkelanjutan, dan berlandaskan nilai-nilai Islam sekaligus memperkuat peran mahasiswa sebagai penjaga nurani lingkungan.(Angga)











































































































Discussion about this post