Larung Saji Jadi Puncak Tradisi Nadran Nelayan Pengarengan
KAB.CIREBON, (FC).- Puluhan perahu nelayan mengiringi prosesi Larung Saji yang menjadi puncak tradisi Nadran atau pesta laut masyarakat Desa Pengarengan, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Minggu (8/11).
Ritual tersebut menjadi simbol rasa syukur atas rezeki hasil laut sekaligus doa untuk keselamatan nelayan saat melaut.
Prosesi berlangsung di aliran Sungai Singaraja. Replika perahu yang sebelumnya ditampilkan dalam karnaval budaya dibawa menuju laut untuk dilarung setelah diawali doa bersama.
Kuwu Desa Pengarengan, Carsadi, mengatakan Nadran merupakan tradisi turun-temurun yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir. Selain sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana menjaga warisan budaya leluhur.
“Nadran bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi tradisi yang sudah menjadi identitas dan bagian dari kehidupan masyarakat nelayan,” ujar Carsadi.
Ia menjelaskan, rangkaian Nadran tahun ini diawali dengan karnaval atau arak-arakan yang menampilkan berbagai kreasi seni dan hiburan masyarakat. Replika perahu yang menjadi bagian dari karnaval kemudian digunakan dalam prosesi Larung Saji.
Dalam prosesi tersebut, replika perahu diiringi nelayan, unsur Muspika, dan tokoh masyarakat menuju laut. Setelah doa bersama, replika perahu dilarung sebagai simbol harapan agar nelayan senantiasa diberikan keselamatan dan memperoleh hasil tangkapan yang melimpah.
“Kami berharap laut terus memberikan rezeki, sementara para nelayan selalu diberikan keselamatan dan perlindungan ketika menjalankan aktivitas melaut,” ungkapnya.
Selain memiliki nilai budaya dan spiritual, Nadran juga menjadi momentum mempererat silaturahmi serta kebersamaan masyarakat pesisir.
Sementara itu, Camat Pangenan, Baihaqi, mengatakan Nadran merupakan bagian penting dari kebudayaan masyarakat pesisir yang perlu terus dilestarikan. Terlebih, sebagian masyarakat di wilayahnya menggantungkan penghidupan pada sektor perikanan dan kelautan.
Menurutnya, tradisi Nadran dilaksanakan masyarakat Desa Pengarengan dan Astanamukti. Kegiatan serupa juga digelar warga Desa Ender, Kecamatan Pangenan.
“Nadran merupakan bentuk rasa syukur masyarakat nelayan atas keberkahan hasil laut sekaligus upaya mempertahankan budaya yang diwariskan secara turun-temurun,” kata Baihaqi.
Ia mengakui, pelaksanaan Nadran kini berkembang dengan berbagai inovasi dan hiburan modern, termasuk pertunjukan sound horeg. Namun, perkembangan tersebut diharapkan tidak menghilangkan nilai-nilai tradisi yang menjadi identitas masyarakat pesisir.
“Inovasi boleh berkembang mengikuti zaman, tetapi jangan sampai menghilangkan nilai-nilai budaya dan tradisi yang sudah diwariskan para leluhur,” tegasnya.
Baihaqi menambahkan, pihak kecamatan bersama Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) turut melakukan pembinaan dan koordinasi dengan pemerintah desa, unsur perizinan, serta kepolisian untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib, aman, dan kondusif.
Melalui tradisi Nadran, masyarakat Pengarengan tidak hanya mempertahankan warisan budaya, tetapi juga memperkuat kebersamaan dan menjaga identitas kehidupan masyarakat nelayan. (Nawawi)



Tinggalkan Balasan