KAB. CIREBON, (FC).- Persoalan rumah tangga yang tidak harmonis dinilai menjadi salah satu akar berbagai masalah sosial yang muncul di lingkungan pesantren.

Berangkat dari kegelisahan itu, Pengasuh Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2 Cirebon, KH Imam Jazuli, menginisiasi Workshop Nasional Bu Nyai Nusantara yang diikuti sekitar 700 peserta dari berbagai daerah di Jawa Barat.

Kegiatan yang berlangsung di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2 tersebut mengangkat tema “Edukasi Seks, Kesehatan Mental, dan Keharmonisan Rumah Tangga”. Workshop menghadirkan seksolog dr Boyke Dian Nugraha dan Ketua Kesehatan Mental Indonesia Hena Rustiana sebagai narasumber.

KH Imam Jazuli mengungkapkan, ide penyelenggaraan workshop berawal dari banyaknya curahan hati yang ia terima saat membuka forum open house setiap Jumat. Dalam forum tersebut, tidak sedikit pasangan suami istri yang merupakan pengasuh pesantren mengeluhkan persoalan rumah tangga yang berimbas pada aktivitas pendidikan dan pengelolaan pesantren.

Menurutnya, masalah yang semula bersifat pribadi kerap berkembang menjadi konflik berkepanjangan, pisah ranjang hingga perceraian. Kondisi tersebut pada akhirnya memengaruhi kualitas pengabdian para pengasuh pesantren kepada santri maupun masyarakat.

“Dalam berbagai kesempatan saya menerima pengaduan terkait hubungan rumah tangga yang bermasalah. Dampaknya bukan hanya pada keluarga, tetapi juga pada keberlangsungan pesantren,” ujar Imam Jazuli. Rabu. (16/9).

Ia menilai keharmonisan keluarga merupakan fondasi penting bagi para tokoh agama dan pengasuh pesantren. Sebab, selain menjalankan kehidupan keluarga, mereka juga memikul tanggung jawab besar dalam mendidik santri, berdakwah dan melayani masyarakat.

Imam juga menyinggung sejumlah kasus pelecehan seksual yang pernah mencuat dan melibatkan oknum pengasuh lembaga keagamaan. Menurutnya, persoalan tersebut perlu dipahami secara lebih menyeluruh, termasuk melihat kondisi relasi dalam rumah tangga pelaku.

“Setelah saya telaah, banyak persoalan berawal dari hubungan rumah tangga yang tidak harmonis. Ketika hubungan keluarga bermasalah, dampaknya bisa merembet ke berbagai aspek kehidupan,” katanya.

Karena itu, ia menegaskan workshop tersebut tidak dimaksudkan untuk membahas persoalan seksual secara sempit. Fokus utama kegiatan adalah memberikan pemahaman tentang pentingnya komunikasi pasangan, kesehatan mental dan edukasi seks dalam membangun keluarga yang sehat.

“Ini bukan sekadar membahas hubungan seksual. Yang lebih penting adalah bagaimana pasangan memahami komunikasi, kesehatan mental dan faktor-faktor lain yang memengaruhi kualitas hubungan suami istri,” tegasnya.

Ketua Panitia, Ubaydillah Anwar, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program nasional yang akan digelar di sejumlah daerah. Pihaknya menargetkan sekitar 5.000 peserta dapat mengikuti kegiatan serupa di berbagai kota di Indonesia.

“Seluruh pembiayaan kegiatan berasal dari program amal Imam Jazuli Foundation. Ke depan workshop akan diperluas ke sejumlah kota lainnya,” ujarnya.

Dalam paparannya, dr Boyke Dian Nugraha menjelaskan bahwa edukasi seksual bagi pasangan suami istri tidak hanya berkaitan dengan aspek biologis, tetapi juga menyangkut pemahaman terhadap kebutuhan dan kondisi pasangan. Menurutnya, banyak persoalan rumah tangga muncul akibat minimnya komunikasi mengenai kehidupan seksual dan emosional.

“Pasangan harus berani membicarakan kebutuhan, kenyamanan, kekhawatiran maupun batasan masing-masing secara terbuka. Komunikasi yang sehat menjadi kunci terciptanya hubungan yang harmonis,” katanya.

Sementara itu, Hena Rustiana menekankan pentingnya kesehatan mental dalam menjaga kualitas hubungan rumah tangga. Ia menjelaskan bahwa stres, kecemasan, konflik berkepanjangan dan kelelahan emosional dapat memengaruhi hubungan pasangan, termasuk kehidupan seksual mereka.

Menurut Hena, komunikasi yang baik akan memperkuat ikatan emosional dan membantu pasangan merasa dihargai serta dipahami. Sebaliknya, hubungan yang dipenuhi konflik berpotensi menimbulkan tekanan psikologis yang berdampak pada kehidupan keluarga.

Melalui workshop tersebut, para peserta diajak memahami bahwa keharmonisan rumah tangga tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga dipengaruhi komunikasi, kesehatan mental dan kualitas hubungan emosional. Dengan keluarga yang harmonis, para pengasuh pesantren diharapkan dapat lebih optimal dalam menjalankan peran pendidikan, dakwah dan pelayanan kepada masyarakat. (Johan)