Bale Kabuyutan Ciledug Direhabilitasi, Jejak Sejarah Dijaga
KAB.CIREBON, (FC).- Bale Kabuyutan di Desa Ciledug Wetan, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, kini mendapat perhatian serius untuk menjaga keberadaannya sebagai salah satu peninggalan sejarah dan budaya masyarakat setempat.
Rehabilitasi bangunan yang juga dikenal sebagai Bale Kambang tersebut mendapat apresiasi dari Camat Ciledug Empep Maman Surachman.
Menurutnya, perbaikan menjadi langkah penting agar warisan leluhur yang berkaitan dengan sejarah Ki Bledug Jaya tetap terawat dan dapat dikenalkan kepada generasi berikutnya.
“Ini merupakan ikhtiar untuk melestarikan warisan sejarah dan budaya yang ada di Kecamatan Ciledug,” ujar Empep, Selasa (8/9).
Ia menilai Bale Kabuyutan bukan sekadar bangunan fisik, melainkan bagian dari identitas dan perjalanan sejarah masyarakat Ciledug. Karena itu, pemeliharaan harus dilakukan secara berkelanjutan setelah proses rehabilitasi selesai.
Empep juga mengapresiasi Kelompok Sadar Kabuyutan Ciledug Wetan, para penggiat budaya, Pemerintah Desa Ciledug Wetan serta pihak lainnya yang turut mendukung rehabilitasi tersebut.
“Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga rehabilitasi ini dapat terealisasi,” katanya.
Rehabilitasi Bale Kabuyutan terlaksana melalui bantuan Program Keserasian Kementerian Sosial. Dukungan tersebut menjadi bagian dari kolaborasi dalam menjaga bangunan yang memiliki nilai sejarah dan budaya bagi masyarakat.
Empep menegaskan, pelestarian peninggalan leluhur tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Masyarakat harus terlibat agar warisan sejarah tersebut tetap terjaga dan tidak kehilangan makna bagi generasi mendatang.
“Siapa lagi yang memelihara warisan leluhur kita kalau bukan kita sendiri. Mari kita rawat bersama,” tegasnya.
Sementara itu, Hendra dari Yayasan Midang Jati Ciledug mengatakan, Bale Kambang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah perkembangan masyarakat Ciledug, termasuk kisah perjalanan Ki Bledug Jaya dan perkembangan dakwah Islam di wilayah tersebut.
Menurutnya, bentuk bangunan yang menyerupai bale atau ranjang besar itu menjadikannya salah satu peninggalan yang memiliki nilai historis.
“Bale Kambang bukan sekadar bangunan tua, tetapi menjadi salah satu jejak penting perjalanan sejarah Ciledug,” ujar Hendra.
Dalam cerita sejarah lokal yang berkembang di masyarakat, Ki Bledug Jaya sebelumnya dikenal dengan nama Ki Malewang dan disebut tinggal di kawasan Pagedangan, wilayah yang kemudian berkembang menjadi Ciledug.
Ketika Pangeran Walangsungsang atau Mbah Kuwu Cirebon datang membawa ajaran Islam, Ki Malewang bersama para pengikutnya dikisahkan menerima Islam dan melakukan sumpah sebagai bentuk kesetiaan.
Suara petir yang menggelegar atau “bledug” dalam kisah tersebut kemudian dikaitkan dengan munculnya nama Ki Bledug Jaya serta tradisi yang dikenal sebagai Sumpah Ciledug.
Bale Kambang pun dipercaya menjadi tempat penting untuk berbagai aktivitas masyarakat, termasuk musyawarah, aktivitas dakwah dan pengambilan sumpah bagi masyarakat yang memeluk Islam. Karena fungsi tersebut, bangunan itu juga dikenal sebagai Bale Panyumpahan.
“Jangan hanya melihat bentuk fisiknya. Di dalam Bale Kambang ada cerita tentang perjalanan masyarakat, budaya dan perkembangan Islam di Ciledug,” kata Hendra.
Secara fisik, bangunan Bale Kabuyutan berukuran sekitar 5 x 3 meter dan ditopang enam tiang kayu. Sejumlah sumber sejarah lokal memperkirakan keberadaannya telah ada sejak sekitar abad ke-15, meski terdapat perbedaan versi mengenai tahun dan latar belakang pembangunannya.
Hendra menilai keberadaan bangunan tersebut penting diperkenalkan kepada generasi muda. Dengan memahami sejarah daerahnya sendiri, generasi muda diharapkan memiliki kepedulian lebih besar terhadap peninggalan budaya di lingkungan mereka.
“Generasi muda harus mengetahui sejarah ini agar memahami bagaimana Ciledug tumbuh dan berkembang,” tuturnya.
Kini, rehabilitasi Bale Kabuyutan diharapkan tidak hanya memperpanjang usia bangunan, tetapi juga menghidupkan kembali kepedulian masyarakat terhadap sejarah, tradisi dan budaya yang melekat di dalamnya. (Nawawi)



Tinggalkan Balasan