Nelayan Citemu Tekor, Hasil Laut Tergerus El Nino
KAB.CIREBON, (FC).- Fenomena El Nino mulai memukul ekonomi nelayan pesisir Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon.
Minimnya hasil tangkapan membuat sejumlah nelayan Desa Citemu harus menanggung kerugian karena biaya operasional melaut tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh.
Dalam dua bulan terakhir, nelayan mengaku lebih sering mengalami defisit. Meski menghabiskan waktu berjam-jam di laut, hasil tangkapan yang didapat justru semakin menurun.
Dara, salah seorang nelayan Desa Citemu, mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan berat bagi nelayan kecil yang hanya mengandalkan hasil laut sebagai sumber penghasilan utama.
“Sudah sekitar dua bulan ini kami sering nendo (defisit). Melaut seharian, hasilnya tidak sebanding dengan modal,” ujar Dara, Kamis (3/9).
Ia menceritakan, dalam satu kali perjalanan melaut bersama dua nelayan lainnya, mereka harus berangkat sejak pukul 02.00 WIB dan kembali sekitar pukul 12.00 WIB. Namun, hasil yang diperoleh hanya satu ekor rajungan.
“Berangkat dini hari sampai siang, tapi hanya dapat satu rajungan,” katanya.
Menurut Dara, untuk sekali melaut di wilayah tepian pantai, nelayan harus mengeluarkan biaya sekitar Rp150 ribu, terutama untuk kebutuhan bahan bakar solar sebanyak kurang lebih 10 liter.
Sementara hasil tangkapan yang diperoleh terkadang tidak mampu menutup biaya tersebut. Satu ekor rajungan yang didapat hanya bernilai sekitar Rp25 ribu.
“Modal Rp150 ribu, hasil cuma Rp25 ribu. Jelas kami rugi,” ungkapnya.
Padahal, kata Dara, harga rajungan saat ini cukup tinggi. Harga rajungan berangkas mencapai sekitar Rp170 ribu per kilogram, sedangkan daging rajungan bisa menembus Rp580 ribu per kilogram.
Namun, tingginya harga tidak banyak membantu karena jumlah tangkapan yang semakin sedikit.
“Kalau hasil tangkapan banyak tentu sangat membantu. Masalahnya sekarang rajungannya sulit didapat,” ujarnya.
Dara menyebut, kondisi cuaca dan perubahan karakter air laut menjadi salah satu penyebab menurunnya hasil tangkapan.
Saat gelombang tinggi dan air laut tidak stabil, keberadaan rajungan semakin sulit ditemukan.
“Kalau air laut tenang, rajungan biasanya banyak. Sekarang sering berombak sehingga hasilnya sedikit,” jelasnya.
Di tengah kondisi tersebut, sebagian nelayan tetap memilih melaut meski peluang mendapatkan hasil cukup kecil. Aktivitas tersebut dilakukan karena tidak ada pilihan pekerjaan lain yang bisa diandalkan.
“Kalau tidak melaut, biasanya kami memperbaiki perahu dan alat tangkap,” tuturnya.
Dara berharap kondisi laut segera membaik agar aktivitas nelayan kembali normal. Sebab, hingga kini mayoritas nelayan kecil masih bergantung sepenuhnya pada hasil tangkapan laut untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Belum ada usaha lain. Untuk sementara kami masih mengandalkan melaut,” pungkasnya. (Nawawi)



Tinggalkan Balasan