KAB.CIREBON, (FC).- Inovasi pertanian modern mulai dikembangkan petani Desa Jatirenggang, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Cirebon.

Melalui penerapan pola Tanam Benih Langsung (Tabela) dalam program PM-AAS (Pertanian Modern–Advanced Agricultural System), petani berharap mampu meningkatkan produktivitas hingga mendorong peningkatan musim tanam padi dari tiga kali menjadi empat kali dalam setahun.

Program tersebut mengusung konsep pertanian modern dengan menggabungkan sejumlah metode, mulai dari tanam benih langsung, pengaturan populasi tanaman, pengairan berselang, hingga pemanfaatan mekanisasi pertanian.

Teknologi tersebut diyakini dapat menjadi solusi untuk menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan efisiensi tenaga, waktu, dan penggunaan sumber daya pertanian.

Kuwu Jatirenggang, Sutisna, mengatakan potensi pertanian di wilayahnya cukup besar dengan luas lahan mencapai lebih dari 150 hektare. Sebagian besar lahan tersebut masih menjadi andalan masyarakat untuk budidaya tanaman padi.

Selama ini, kata dia, petani Jatirenggang rata-rata mampu melakukan tiga kali tanam dalam setahun. Dengan adanya penerapan Tabela, peluang peningkatan indeks pertanaman menjadi empat kali tanam mulai terbuka.

“Tabela kami harapkan bisa mendongkrak produktivitas, sehingga dari tiga kali tanam dapat diupayakan menjadi empat kali dalam setahun,” ujar Sutisna, Rabu (19/8).

Menurutnya, salah satu keunggulan metode Tabela adalah mampu mengurangi kebutuhan tenaga kerja saat proses awal penanaman.

Berbeda dengan pola konvensional yang membutuhkan proses persemaian dan pemindahan bibit ke lahan, Tabela dilakukan dengan menanam benih langsung di area persawahan sehingga pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien.

“Tabela bisa menghemat biaya tenaga kerja. Yang biasanya membutuhkan banyak orang, dengan metode ini pekerjaan bisa jauh lebih efisien,” jelasnya.

Selain efisiensi tenaga, Sutisna menyebut penerapan Tabela juga memiliki keunggulan dalam pengelolaan air.

Dengan benih langsung ditanam di lahan, kebutuhan air dapat lebih terkendali karena tanaman tidak melalui proses pemindahan bibit seperti pada metode tanam biasa.

“Dengan Tabela, kebutuhan air bisa lebih hemat karena sejak awal benih langsung berada di lahan dan tidak perlu dipindahkan,” ungkapnya.

Metode tersebut juga dinilai mampu mengurangi risiko stres tanaman akibat proses perpindahan bibit. Tanaman dapat tumbuh sejak awal di lokasi yang sama sehingga proses adaptasi berlangsung lebih baik.

Sutisna menjelaskan, Desa Jatirenggang selama ini juga menjadi salah satu lokasi uji coba berbagai inovasi pertanian. Sejumlah teknologi maupun produk pertanian telah dicoba untuk mencari metode yang paling sesuai dengan kondisi lahan dan kebutuhan petani.

Menurutnya, inovasi pertanian menjadi bagian penting dalam menghadapi tantangan sektor pertanian, terutama dalam meningkatkan hasil produksi dengan sumber daya yang lebih efisien.

Saat ini, penerapan Tabela PM-AAS di Desa Jatirenggang telah memasuki usia 21 hari atau sekitar tiga minggu setelah tanam.

Dari hasil pengamatan awal, sebagian besar tanaman menunjukkan pertumbuhan cukup baik dengan kondisi tanaman yang terlihat lebat. Meski demikian, masih terdapat sejumlah titik yang pertumbuhannya belum maksimal.

Untuk menjaga jumlah populasi tanaman, petani mulai melakukan penyulaman pada bagian lahan yang pertumbuhannya kurang optimal.

“Usia tiga minggu ini sudah terlihat mana bibit yang tumbuh kurang maksimal. Sekarang waktu yang tepat untuk melakukan sulam dengan benih yang tersedia,” kata Sutisna.

Ia berharap program PM-AAS melalui metode Tabela dapat terus dikembangkan dan memberikan dampak nyata bagi petani Jatirenggang.

Menurutnya, keberhasilan teknologi pertanian modern harus disesuaikan dengan kondisi lahan, ketersediaan sarana pendukung, serta kebutuhan masyarakat agar manfaatnya benar-benar dirasakan.

“Kami berharap teknologi ini benar-benar memberi manfaat dan membuat petani lebih efisien, produktif, serta semakin sejahtera,” pungkasnya. (Nawawi)