KAB.CIREBON, (FC).- Rasa syukur atas keberhasilan sektor pertanian diwujudkan masyarakat Desa Jatirenggang, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Cirebon, melalui tradisi Sedekah Bumi perdana, Rabu (19/8).

Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi para petani dan masyarakat untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil panen yang melimpah sekaligus mempererat kebersamaan antarwarga.

Sedekah Bumi tidak hanya menjadi tradisi turun-temurun, tetapi juga menjadi simbol penghargaan terhadap hasil bumi serta upaya menjaga nilai gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan.

Kuwu Jatirenggang, Sutisna, mengatakan kegiatan tersebut merupakan Sedekah Bumi pertama yang digelar sejak dirinya menjabat sebagai kepala desa.

Ia mengapresiasi inisiatif para petani yang bersama-sama menggelar kegiatan syukuran atas keberhasilan musim tanam.

“Ini menjadi kebanggaan sekaligus bukti kekompakan para petani. Alhamdulillah, kita bisa bersyukur atas hasil panen yang diberikan,” ujar Sutisna.

Menurutnya, pertanian menjadi salah satu sektor unggulan Desa Jatirenggang. Dari sekitar 150 hektare lahan pertanian yang tersedia, sebagian besar dimanfaatkan untuk tanaman padi.

Produktivitas pertanian tersebut membuat sebagian besar petani mampu melakukan tiga kali musim tanam dalam satu tahun. Bahkan, dalam kondisi tertentu, petani mampu meningkatkan frekuensi tanam hingga empat kali.

“Rata-rata petani bisa tiga kali tanam dalam setahun. Kalau bisa sampai empat kali, itu sebuah pencapaian yang luar biasa,” katanya.

Sutisna menjelaskan, keberhasilan pertanian di Desa Jatirenggang tidak terlepas dari sejumlah faktor pendukung, seperti ketersediaan air, benih berkualitas, pupuk, serta penerapan pola tanam yang tepat.

Menurutnya, pengelolaan pertanian yang baik mampu membantu petani meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan hasil panen.

Namun demikian, kondisi cuaca tetap menjadi tantangan yang harus dihadapi petani. Curah hujan tinggi dapat meningkatkan risiko serangan hama, sementara ketersediaan air menjadi faktor penting terutama saat memasuki musim tanam ketiga.

“Yang paling penting air cukup dan pola tanamnya tepat. Kalau hujan terlalu banyak, serangan hama juga biasanya meningkat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sebagian besar lahan pertanian di Jatirenggang masih didominasi tanaman padi. Sementara komoditas lain seperti jagung manis baru dikembangkan dalam skala terbatas.

Sementara itu, Camat Pabuaran Eka Yunilistianingsih memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Sedekah Bumi perdana tersebut.

Menurutnya, tradisi Sedekah Bumi memiliki nilai yang lebih luas, tidak hanya sebagai kegiatan seremonial, tetapi juga mengandung pesan sosial, budaya, dan spiritual bagi masyarakat.

“Sedekah Bumi merupakan wujud rasa syukur atas rezeki, hasil bumi, dan keselamatan yang telah diberikan Allah SWT,” tutur Eka.

Ia mengapresiasi Pemerintah Desa Jatirenggang, perangkat desa, panitia, tokoh agama, alim ulama, serta seluruh masyarakat yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

Eka mengingatkan agar masyarakat terus menjaga keseimbangan antara pembangunan, kelestarian lingkungan, dan kebersamaan.

“Jaga alam dan jaga kebersamaan. Kalau bumi kita rawat dan gotong royong terus dijaga, insyaallah keberkahan akan terus mengalir,” pesannya.

Melalui Sedekah Bumi perdana ini, masyarakat Desa Jatirenggang berharap hasil pertanian semakin meningkat, kesejahteraan petani terus tumbuh, serta tradisi gotong royong tetap terjaga di tengah perkembangan zaman. (Nawawi)