KAB.CIREBON, (FC).- Persoalan sampah liar kembali menjadi sorotan di Kabupaten Cirebon. Tumpukan sampah yang menggunung di sejumlah ruas jalan tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga mengganggu kenyamanan warga dan membahayakan pengguna jalan.

Salah satu lokasi yang menjadi perhatian berada di jalur Lemahabang–Japura. Di sepanjang ruas tersebut, tumpukan sampah terlihat memenuhi bahu jalan hingga sebagian meluber ke badan jalan.

Aroma menyengat yang ditimbulkan menambah kesan kumuh di kawasan yang setiap hari dilalui masyarakat.

Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon melalui Tim Saber Sampah Liar turun langsung melakukan pembersihan dan pengangkutan sampah, Kamis (25/6).

Selain di jalur Lemahabang–Japura, kegiatan pengurasan sampah juga dilakukan di sejumlah titik lain yang selama ini menjadi lokasi pembuangan liar, seperti kawasan Flyover Kanci–Mertapada, jalur Ciledug–Sumber, hingga kawasan Pantura Playangan.

“Pembersihan dilakukan di beberapa titik yang selama ini menjadi lokasi penumpukan sampah liar,” ujar Aiman, petugas Tim Saber Sampah Liar di lapangan.

Menurutnya, volume sampah yang diangkut cukup besar karena sebagian lokasi sudah lama menjadi tempat pembuangan sampah ilegal. Bahkan di beberapa titik, sampah telah menutupi bahu jalan dan mengganggu aktivitas pengguna jalan.

Kondisi tersebut semakin berisiko saat musim hujan. Sampah plastik yang terbawa aliran air kerap berserakan di badan jalan sehingga berpotensi menyebabkan kecelakaan lalu lintas, khususnya bagi pengendara sepeda motor.

Warga setempat, Ali, menilai persoalan sampah liar tidak akan pernah selesai jika tidak dibarengi dengan peningkatan kesadaran masyarakat dan penegakan aturan yang tegas.

Menurutnya, masih banyak oknum yang dengan sengaja membuang sampah di lahan kosong, pinggir jalan, hingga saluran air tanpa mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan.

“Kesadaran masyarakat masih perlu ditingkatkan agar persoalan sampah tidak terus berulang,” katanya.

Ali mengaku hampir setiap hari melihat tumpukan sampah liar di berbagai wilayah Kabupaten Cirebon. Selain mengganggu estetika lingkungan, keberadaan sampah tersebut juga menimbulkan ancaman bagi keselamatan pengguna jalan.

“Kalau hujan, sampah plastik sering hanyut ke jalan. Ini berbahaya karena bisa membuat pengendara motor terpeleset atau kehilangan kendali,” ujarnya.

Tak hanya itu, bau busuk yang berasal dari tumpukan sampah juga menjadi keluhan utama warga. Kondisi semakin parah ketika sampah dibakar oleh pihak yang tidak bertanggung jawab sehingga asapnya mengganggu pengguna jalan dan warga sekitar.

“Saya setiap hari melintas di jalan ini. Bau sampah saja sudah mengganggu, apalagi kalau dibakar,” tuturnya.

Meski demikian, Ali mengapresiasi langkah DLH Kabupaten Cirebon yang secara rutin mengerahkan armada dan Tim Saber Sampah Liar untuk membersihkan lokasi-lokasi yang menjadi titik penumpukan sampah.

Namun ia menilai upaya tersebut hanya menjadi solusi sementara apabila tidak disertai perubahan perilaku masyarakat dan tindakan hukum terhadap pelaku pembuangan sampah sembarangan.

“Sampah sudah sering diangkut, tetapi beberapa hari kemudian kembali menumpuk. Artinya masalahnya bukan hanya soal pembersihan, tetapi juga kesadaran masyarakat,” katanya.

Karena itu, warga berharap pemerintah daerah dapat menerapkan sanksi yang lebih tegas terhadap pelaku pembuangan sampah liar agar menimbulkan efek jera.

“Kami berharap ada tindakan tegas bagi pembuang sampah sembarangan. Kalau tidak ada efek jera, persoalan ini akan terus berulang,” tegas Ali.

Warga juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut menjaga kebersihan lingkungan dan tidak menjadikan ruang publik sebagai tempat pembuangan sampah.

Dengan kesadaran bersama serta penegakan aturan yang konsisten, persoalan sampah liar di Kabupaten Cirebon diharapkan dapat diminimalkan dan lingkungan menjadi lebih bersih, sehat, serta nyaman bagi masyarakat. (Nawawi)