MAJALENGKA, (FC).- Bursa Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Majalengka periode 2026-2031 mulai menghangat. Empat nama masuk dalam radar pencalonan, namun hingga Sabtu (29/8), belum ada yang resmi mendaftarkan diri.

Ketua Steering Committee (SC) Musda Partai Golkar Majalengka, H. Suparman, mengatakan panitia masih menunggu arahan DPD Partai Golkar Jawa Barat terkait jadwal pelaksanaan Musda.

“Belum ada yang daftar calon ketua hingga hari ini. Panitia juga masih menunggu arahan dari DPD Provinsi Jabar terkait waktu pelaksanaan,”kata Suparman saat dikonfirmasi melalui ponselnya, Sabtu (29/8).

Menurut dia, Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Majalengka merupakan bagian dari agenda DPD Partai Golkar Jawa Barat sehingga pelaksanaannya menyesuaikan arahan provinsi.

Suparman mengungkapkan, dari empat nama yang sempat disebut masuk bursa, Abdul Thoyib dinilai memenuhi persyaratan pencalonan karena telah lama menjadi kader Partai Golkar.

Sementara dua kandidat lainnya masih menunggu diskresi Ketua Umum DPP Partai Golkar, sedangkan satu nama lainnya, Dasim Raden Pamungkas, telah menyatakan tidak mencalonkan diri.

Empat nama yang sebelumnya muncul dalam dinamika bursa tersebut yakni H. Eka Asep Mulyana, Dena Muhamad Ramdhan, Abdul Toyib dan Dasim Raden Pamungkas sempat beredar akan maju di bursa Ketua Golkar Majalengka.

Asep Eka Mulyana merupakan Ketua DPD Partai Golkar Majalengka petahana, Dena Muhamad Ramdhan menjabat Wakil Bupati Majalengka, Abdul Thoyib merupakan Anggota DPRD Majalengka, sedangkan Dasim juga merupakan Anggota DPRD Majalengka sekaligus Ketua Fraksi Golkar.

Suparman menjelaskan, kebutuhan diskresi berkaitan dengan persyaratan pencalonan yang belum terpenuhi.

Untuk Asep Eka Mulyana, salah satu pertimbangannya berkaitan dengan masa kepemimpinan setelah dua periode.

Namun, rekam jejak kepemimpinannya juga menjadi pertimbangan karena perolehan kursi dan suara Partai Golkar di Majalengka disebut mengalami peningkatan.

Sementara Dena Muhamad Ramadhan masih tergolong kader baru karena masa keanggotaannya belum mencapai lima tahun. Di sisi lain, Suparman menyebut terdapat arahan DPP Partai Golkar agar figur dari kalangan eksekutif dapat menjadi pilihan dalam kepemimpinan partai.

Harapannya, figur tersebut mampu memperkuat mesin partai dan mendongkrak perolehan suara pada Pemilu 2029.

Lebih jauh Suparman mengatakan, Musda Golkar Majalengka tidak hanya diarahkan sebagai ajang perebutan kursi ketua. Para kandidat terlebih dahulu diminta mengedepankan musyawarah mufakat.

“Sekarang pemilihan itu unik. Sesuai arahan DPP, mufakat dulu antarcalon, setelah itu baru musyawarah kalau tidak ada titik temu,” katanya.

Menurut dia, mekanisme tersebut diharapkan dapat menghindari gesekan antar calon dan pendukung, sehingga soliditas partai setelah Musda tetap terjaga.

“Kami berharap seluruh tahapan Musda berlangsung kondusif sehingga pergantian kepemimpinan tidak mengganggu soliditas partai menghadapi Pemilu 2029,” pungkas politisi asal Kecamatan Bantarujeg ini. (Munadi)