Kurangi Dampak Kekeringan, Pemkab Majalengka Kucurkan Bantuan Irigasi Hampir Rp13 Miliar
MAJALENGKA, (FC).– Pemkab Majalengka, memperkuat ketahanan pangan melalui bantuan irigasi pe utkrpompaan (Irpom) dan irigasi perpipaan (Irpip) senilai hampir Rp13 miliar dari pemerintah pusat.
Program tersebut ditujukan untuk membantu petani mengatasi kekeringan sekaligus meningkatkan indeks pertanaman (IP) hingga tiga kali dalam setahun.
Bupati Majalengka Eman Suherman, mengatakan bantuan tersebut diprioritaskan bagi wilayah pertanian tadah hujan yang kerap kesulitan air saat musim kemarau. Penguatan irigasi diharapkan menjaga keberlangsungan masa tanam kedua (MT 2) dan ketiga (MT 3).
“Jangan sampai indeks pertanaman kita hanya IP 1 atau 1,7. Sekarang kita berharap bisa mencapai IP 3. Mudah-mudahan dengan Irpom dan Irpip, petani tidak lagi kesulitan air ketika kemarau,” ujar Eman Suherman, Senin (26/10).
Berdasarkan skema bantuan yang disampaikan, anggaran Irpom mencapai Rp155,7 juta per unit atau titik, sedangkan Irpip sebesar Rp97 juta. Pengelolaan fasilitas tersebut akan diserahkan kepada kelompok tani agar manfaatnya berkelanjutan.
Bupati Eman Suherman mengingatkan kelompok tani dan gabungan kelompok tani agar mengelola bantuan secara amanah, sesuai spesifikasi teknis, serta mengutamakan kepentingan petani.
“Harus ada rasa memiliki dan tanggung jawab. Kalau orientasinya hanya mencari keuntungan, nilai manfaat program ini tidak akan ada,” tegasnya.
Selain bantuan irigasi, Pemkab Majalengka mengandalkan pembangunan sodetan yang mendapat dukungan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk mengatasi persoalan air di wilayah utara, khususnya Kertajati dan Jatitujuh.
Bupati Eman menyebut pembangunan sodetan berdampak terhadap peningkatan luas panen saat musim kemarau. Jika sebelumnya luas lahan yang mampu panen di wilayah tersebut hanya sekitar 500 hektare, kini meningkat menjadi 2.000 hektare.
Pemkab juga memetakan wilayah lain yang membutuhkan dukungan irigasi. Penentuan lokasi Irpom dan Irpip dilakukan berdasarkan kajian geolistrik untuk memastikan ketersediaan sumber air bawah tanah. Menurut Eman Suherman, tidak semua wilayah dapat memperoleh fasilitas serupa karena hasil kajian menunjukkan adanya daerah yang tidak memiliki sumber air memadai.
Di sisi produksi, Eman menyampaikan bahwa kondisi kekeringan lahan pertanian di Majalengka saat ini hampir seluruhnya tertangani. Berdasarkan laporan yang diterimanya, luas lahan yang masih terdampak tersisa sekitar 0,08, meski satuan luasnya perlu dikonfirmasi.
Ia juga menyebut produksi pada masa tanam pertama mencapai 626.726 ton. Angka tersebut menjadi salah satu indikator optimisme pemerintah daerah dalam menjaga ketersediaan pangan di tengah tantangan musim kemarau.
Eman menegaskan, transformasi Majalengka menuju kawasan industri tidak boleh mengorbankan sektor pertanian. Pemerintah daerah tetap mempertahankan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) sebagai fondasi ketahanan pangan.
“Kita ingin Majalengka maju di sektor industri tanpa melupakan ketahanan pangan. Saya optimistis industri berkembang, tetapi pertanian dan ketahanan pangan tetap kuat,” katanya.
Melalui penguatan infrastruktur irigasi, peningkatan indeks pertanaman, dan perlindungan lahan pertanian, Pemkab Majalengka berharap produktivitas petani tetap terjaga serta pasokan beras daerah semakin kuat menghadapi perubahan musim. (Munadi)


Tinggalkan Balasan