KUNINGAN, (FC).- Karnaval Budaya Hari Jadi ke-528 Kuningan tidak hanya menjadi ajang menampilkan kreativitas seni dan budaya.

Ratusan mahasiswa Universitas Kuningan (UNIKU) memanfaatkan panggung jalanan tersebut untuk menyampaikan pesan sosial tentang pentingnya kebersihan, kejujuran, serta tata kelola pemerintahan yang baik.

Mengusung tema “Segala Zaman Harus Bersih, Semua Unsur Harus Jujur”, sekitar 400 mahasiswa UNIKU tampil dalam Teater Jalanan dengan membawa sapu lidi sebagai simbol gerakan membersihkan berbagai persoalan di tengah masyarakat.

Melalui perpaduan seni teater, musik, humor, dan simbol-simbol sosial, mahasiswa menyuarakan sejumlah isu yang tengah menjadi perhatian publik.

Di antaranya persoalan sampah dan lingkungan, program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, pengelolaan dapur MBG, hingga ajakan agar pemerintahan terbebas dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Pertunjukan tersebut tidak sekadar menjadi hiburan dalam rangkaian karnaval, tetapi juga menjadi ruang penyampaian kritik dan refleksi bagi masyarakat maupun pemerintah agar bersama-sama membangun Kuningan yang lebih baik.

Rektor UNIKU, Anna Fitri Hindriana, mengatakan tema bersih dan jujur dipilih karena nilai tersebut harus diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, baik di lingkungan masyarakat maupun pemerintahan.

“Kami memang mengangkat tema bersih dan jujur dalam segala lini kehidupan. Artinya, bukan hanya masyarakat, tetapi sampai tingkat pemerintahan juga harus bersih dan jujur,” ujar Anna, Minggu (13/9).

Menurutnya, penampilan Teater Jalanan UNIKU disiapkan dalam waktu singkat. Dengan dukungan pengalaman Teater Pecut sebagai wadah pengembangan seni mahasiswa, konsep pertunjukan dapat dirampungkan meski waktu persiapan terbatas.

“Kami mempersiapkannya hanya satu minggu, sedangkan latihan intensif hanya dua hari. Namun, kami sudah terbiasa karena memiliki Teater Pecut,” katanya.

Di balik suksesnya penampilan, Anna juga memberikan masukan terhadap pelaksanaan teknis karnaval. Ia berharap pengaturan waktu dan alur peserta pada kegiatan serupa ke depan dapat lebih diperbaiki.

Ia mengungkapkan, rombongan UNIKU harus menunggu cukup lama sebelum melintas di depan Bupati Kuningan.

“Kami berangkat dari Kampus 2 sekitar pukul 08.00, tetapi baru bisa melintas di depan Pak Bupati sekitar pukul 12.00. Hal-hal seperti ini perlu diperbaiki agar pelaksanaan pawai berikutnya lebih lancar,” ungkapnya.

Selain itu, Anna juga menyoroti pentingnya penyesuaian jadwal agar rangkaian kegiatan tidak berbenturan dengan waktu ibadah.

Meski demikian, ia tetap mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Kuningan yang telah memberikan ruang kepada masyarakat dan berbagai instansi untuk menampilkan kreativitas dalam Karnaval Budaya Hari Jadi ke-528.

Sementara itu, Bupati Kuningan H. Dian Rachmat Yanuar menilai pesan yang disampaikan Teater Jalanan UNIKU merupakan bentuk aspirasi positif untuk mendorong perubahan menuju Kuningan yang lebih baik.

Menurut Dian, pesan tentang kebersihan, pemerintahan yang bersih, serta tata kelola yang baik merupakan bagian penting dalam membangun daerah.

“Semua menyampaikan pesan bahwa Kuningan harus lebih baik. Tadi tentang bersih, good governance, dan clean governance. Pesan-pesan itu merupakan bentuk aspirasi untuk Kuningan yang lebih baik,” kata Dian.

Ia menegaskan, semangat tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah bersama unsur legislatif dan yudikatif dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang transparan dan berintegritas.

“Kita memiliki keinginan yang sama untuk membangun Kuningan yang lebih baik dengan kepemimpinan dan pemerintahan yang bersih,” pungkasnya. (Angga)