KUNINGAN, (FC).- Produk teknologi kesehatan buatan Kabupaten Kuningan mulai merambah pasar internasional. Perangkat lunak yang dikembangkan PT Indo Tele Mediasoft berhasil dipasarkan di Taiwan dan telah digunakan di dua fasilitas kesehatan di negara tersebut.

Produk karya anak daerah ini memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 91,55 persen berdasarkan sertifikasi Kementerian Perindustrian. Capaian tersebut menunjukkan produk teknologi lokal mampu bersaing di pasar luar negeri dengan tetap mengedepankan standar internasional.

Owner PT Indo Tele Mediasoft, Febbie Hadidallas, mengatakan keberhasilan memasuki pasar Taiwan berawal dari keikutsertaan perusahaannya dalam Medical Expo 2026 di negara tersebut.

Dalam pameran kesehatan internasional itu, Indo Telemed memperkenalkan sejumlah produk atas undangan Gabungan Pengusaha Alat Kesehatan dan Laboratorium Indonesia (Gakeslab).

Keikutsertaan tersebut membuka peluang kerja sama dengan Market Intelligence Corporation (MIC), perusahaan Taiwan yang kemudian menjadi distributor resmi produk Indo Telemed di negara itu.

Saat ini, dua produk Indo Telemed telah dipasarkan dan digunakan di rumah sakit rehabilitasi serta rumah sakit hewan di Taiwan.

“Alhamdulillah, produk kita mendapat sambutan baik. MIC menjadi distributor resmi dan sudah menjual dua produk Indo Telemed yang sekarang terpasang di rumah sakit rehabilitasi dan rumah sakit hewan di Taiwan,” ungkap Febbie, Kamis (5/11).

Peluang ekspansi pasar juga terbuka setelah perusahaan kesehatan lain di Taiwan, SGSC, menunjukkan ketertarikan untuk menjadi distributor kedua. Jika terealisasi, kerja sama tersebut akan memperluas jaringan pemasaran produk teknologi kesehatan asal Kuningan.

Febbie menjelaskan, Indo Telemed saat ini mengembangkan sekitar tujuh produk perangkat lunak untuk mendukung pelayanan kesehatan. Produk tersebut mencakup sistem manajemen rumah sakit, laboratorium, radiologi, intensive care unit (ICU), utility, hingga sistem pemantauan secara real time.

Perusahaan juga mengembangkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang diintegrasikan ke dalam sistem Picture Archiving and Communication System (PACS) dan Laboratory Information System (LIS).

Teknologi tersebut dapat membantu analisis sejumlah kondisi medis, seperti tuberkulosis (TBC), skoliosis, penyakit jantung, gangguan pembuluh darah, hingga kanker dan tumor.

Namun, Febbie menegaskan, penggunaan AI hanya untuk membantu tenaga medis dalam membaca dan menganalisis hasil pemeriksaan, bukan menggantikan peran dokter dalam menentukan diagnosis.

“AI kita fungsikan sebagai second opinion bagi dokter. Jadi, bisa memberikan petunjuk atau gambaran tambahan untuk membantu proses analisis dan meningkatkan efisiensi pelayanan,” jelasnya.

Selain Taiwan, produk Indo Telemed juga telah menjangkau Korea Selatan melalui jaringan distributor. Perusahaan tersebut sebelumnya juga mengikuti sejumlah pameran internasional di Jerman, Afrika, Dubai, dan Taiwan melalui fasilitasi Kementerian Perindustrian.

Dari sisi kualitas, produk yang dikembangkan telah mengacu pada sejumlah standar internasional, di antaranya ISO 27001, DICOM, HL7, dan FHIR. Standar tersebut mendukung keamanan informasi serta integrasi perangkat lunak dengan berbagai sistem teknologi kesehatan.

Meski mulai berkembang di pasar luar negeri, Febbie berharap produk Indo Telemed semakin banyak dimanfaatkan di dalam negeri, termasuk oleh fasilitas kesehatan di Kabupaten Kuningan.

Menurutnya, produk lokal harus mampu menawarkan harga yang lebih terjangkau tanpa mengurangi kualitas dan standar teknologi yang digunakan.

“Kami ingin produk dalam negeri itu harganya terjangkau, tetapi bukan berarti murahan. Kualitasnya harus berkelas dan memenuhi standar internasional. Jadi, kita bisa membuktikan bahwa produk lokal juga mampu bersaing dengan produk impor,” pungkasnya. (Angga)