KAB.CIREBON, (FC).- Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai kegiatan buka puasa bersama yang dihadiri Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di Budi Darma Suci, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, Jumat (20/2).
Mengangkat tema “Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi”, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi spiritual sekaligus kebangsaan di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia.
Dalam sambutannya, istri Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid, itu mengaku bersyukur dapat kembali bersilaturahmi dengan masyarakat Cirebon setelah setahun terakhir tidak berkunjung.
“Alhamdulillah saya kembali mengunjungi Cirebon setelah setahun yang lalu. Dengan kondisi fisik saya dan kondisi negara yang bisa dikatakan sedang tidak baik-baik saja, dengan banyaknya bencana yang terjadi,” ujarnya di hadapan ratusan warga.
Ia menegaskan, kegiatan buka puasa bersama bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan sarana mempererat persaudaraan, menumbuhkan semangat tolong-menolong, serta memperkuat toleransi antarumat beragama.
“Saya bangga dengan warga Cirebon yang begitu antusias untuk bersama-sama saling menyapa dan bersilaturahmi,” tuturnya.
Dalam tausiyahnya, Shinta Nuriyah mengingatkan bahwa esensi puasa tidak diukur dari lamanya menjalankan ibadah, melainkan dari kualitas dan nilai yang diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari.
“Puasa tidak dihitung dari hari, melainkan kualitas puasa itu sendiri. Apakah puasa hanya menjadi ibadah tahunan, atau benar-benar karena Allah?” katanya.
Menurutnya, puasa mengajarkan nilai-nilai kejujuran, keadilan, kebijaksanaan, serta sikap saling menghormati. Akhlak dan budi pekerti, lanjutnya, menjadi inti dari ibadah yang dijalankan selama Ramadan.
“Puasa mengajarkan kejujuran, adil, bijaksana, dan saling hormat-menghormati sesama. Inilah yang harus kita jaga,” tegasnya.
Dalam momentum Ramadan tahun ini, ia juga menyinggung berbagai musibah yang melanda Indonesia, mulai dari banjir, tanah longsor, kebakaran, hingga bencana kemanusiaan lainnya. Ia mengajak masyarakat memaknai setiap peristiwa sebagai bahan introspeksi dan penguatan iman.
“Dalam Al-Qur’an disebutkan, setiap bencana ada pelajaran. Pertama sebagai peringatan, kedua sebagai hukuman, dan ketiga sebagai ujian dari Allah SWT. Tinggal bagaimana kita menyikapinya,” ungkapnya.
Menurut Shinta Nuriyah, kondisi bangsa yang diwarnai bencana alam dan tantangan demokrasi harus dijawab dengan penguatan moral, persatuan, serta kepedulian sosial antarwarga.
Sementara itu, Bupati Cirebon, H Imron, mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi bersama kalangan Nahdlatul Ulama dan berbagai elemen masyarakat tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi simbol penting dalam menjaga kerukunan.
“Kami dari pemerintah daerah menyampaikan selamat menjalankan ibadah bulan Ramadan. Kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahun oleh Bu Shinta ini menjadi simbol kerukunan antarumat beragama,” ujarnya.
Ia menambahkan, momentum buka puasa bersama tersebut juga menjadi pengingat pentingnya menjaga toleransi demi memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.
“Dengan adanya kegiatan ini, kita diajarkan bahwa toleransi antarumat beragama sangat diperlukan demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” katanya. (Nawawi)











































































































Discussion about this post