Sedekah Bumi, Tradisi Jelang Musim Tanam Rendengan yang Masih Lestari di Desa Putridalem
MAJALENGKA, (FC).- Masyarakat Desa Putridalem, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, masih melestarikan tradisi sedekah bumi jelang musim tanam rendengan.
Desa Putridalem yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Kabupaten Indramayu ini, mayoritas penduduknya sebagai petani. Mereka tetap menjaga dengan baik tradisi Sedekah Bumi sebagai warisan leluhur yang diturunkan secara turun temurun.
Selain itu, Tradisi Sedekah Bumi menjelang masa tanam perdana atau MT I, masih terus dilestarikan oleh masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Majalengka. Dalam pelaksanaannya, warga Desa Putridalem sudah sejak pagi sekitar pukul 06.00 WIB, berkumpul untuk melaksanakan tradisi sedekah bumi.
Seorang Tokoh Masyarakat desa setempat Sutrisno mengatakan, kegiatan tersebut diikuti oleh ratusan warga dari berbagai blok di wilayah Desa Putridalem, pada Rabu kemarin.
Mereka datang sambil membawa beragam makanan dan buah-buahan sebagai bentuk persembahan syukur.
Tokoh masyarakat Desa Kaputren itu menjelaskan, sedekah bumi merupakan tradisi turun-temurun masyarakat setempat yang diwariskan sejak zaman nenek moyang. Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas hasil bumi, khususnya di bidang pertanian.
“Tujuannya, selain sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, juga agar tradisi ini tetap lestari dan terus dilaksanakan sebagai agenda tahunan. Apalagi, sebagian besar warga Putridalem berprofesi sebagai petani,” ungkap Sutrisno, Kamis (29/10).
Menurutnya, pelestarian budaya hanya bisa terwujud jika masyarakat sendiri yang menjaga dan meneruskannya. Ia menambahkan, para petani di wilayahnya kini telah siap menghadapi musim tanam perdana yang akan dimulai dalam beberapa pekan ke depan.
Sementara hasil panen musim kedua sebelumnya dinilai cukup memadai, baik untuk tanaman padi maupun komoditas lainnya.
Di lokasi acara, beragam tumpeng dan makanan khas desa tersaji memanjang di sepanjang jalan. Setelah doa bersama, seluruh warga yang hadir menikmati hidangan tersebut secara bersama-sama.
“Setiap warga membawa seserahan, lalu disantap bersama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur. Kami berdoa semoga Allah memberikan keberkahan dan rezeki melalui hasil pertanian di wilayah kami,” ungkap Sutrisno.
Sementara itu, Kepala Desa Putridalem Kecamatan Jatitujuh, Endah Hendrawati, menuturkan bahwa prosesi syukuran ini merupakan tradisi turun-temurun yang selalu dijaga oleh masyarakatnya.
Menurutnya, sedekah bumi tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga.
“Tujuan utama tradisi ini adalah mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat dan hasil bumi yang diberikan. Selain itu, kegiatan ini juga mempererat hubungan sosial antarwarga,” ujar Endah, ya g di temui di tempat kerjanya, Kamis (29/10).
Ia menambahkan, setiap tahun Desa Putridalem menggelar tiga tradisi besar, yakni Mapag Sri saat panen raya, Sedekah Bumi menjelang masa tanam, dan Munjungan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
“Selama satu tahun, kami melaksanakan tiga ritual tersebut sebagai bentuk syukur sekaligus menjaga warisan budaya leluhur agar tidak punah,” tandasnya. (Agus)



Tinggalkan Balasan