KOTA CIREBON, (FC).- Pemkot Cirebon terus berupaya menarik investor guna menanamkan modalnya. Berbagai kemudahan perizinan diberikan dan potensi keuntungan geografis Kota Cirebon menjadi daya tariknya.

Salah satunya adalah disektor industri perhotelan.

Tercatat, sedikitnya ada 75 hotel berbintang maupun tidak yang sudah berdiri dan beroperasi di Kota Cirebon. Namun keberadaannya tidak mengurungkan niat investor untuk membangun hotel lagi.

Sekitar lima hotel kelas berbintang direncanakan dibangun serentak tahun ini. Fenomena tersebut menjadi sinyal bahwa prospek industri perhotelan di Kota Cirebon masih dinilai menjanjikan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, mengatakan, masuknya investasi hotel-hotel baru ini menunjukkan Kota Cirebon telah menjadi salah satu magnet investasi.

Menurut Agus, keputusan investor membangun hotel tentu telah melalui kajian terhadap kondisi pasar dan potensi pertumbuhan kota.

“Saya mengambil sisi bahwa Cirebon itu sudah menjadi magnet. Kita bisa lihat hari ini, terutama di weekend, wisatawan itu kesulitan untuk mencari kamar kosong,” ujar Agus, Rabu (19/7).

Agus menyebut tingkat keterisian kamar atau okupansi hotel di Kota Cirebon pada akhir pekan rata-rata berada di kisaran 70 hingga 90 persen. Tingkat okupansi tersebut menjadi indikator bahwa permintaan kamar masih cukup kuat.

Kondisi ini pula yang dinilai menjadi daya tarik bagi pelaku usaha untuk menanamkan modal di sektor perhotelan.

“Tentu untuk sebuah industri atau pengusaha ini menjadi daya tarik untuk mereka berinvestasi di Kota Cirebon,” katanya.

Agus mengatakan investor tidak hanya melihat kondisi okupansi saat ini. Mereka juga memperhitungkan proyeksi perkembangan Kota Cirebon dalam beberapa tahun mendatang.

Salah satu faktor yang menjadi pertimbangan adalah posisi geografis Cirebon yang strategis. Kota ini berada pada simpul berbagai moda transportasi.

“Dari sisi geografis Kota Cirebon memang ada di simpul semua moda transportasi, kereta api, tol Trans Jawa, pelabuhan dan Bandara Kertajati kalau nanti bisa difungsikan lagi menjadi bandara komersial,” jelas Agus.

Konektivitas tersebut menjadi modal penting bagi perkembangan pariwisata, perjalanan bisnis, maupun berbagai kegiatan yang mendatangkan pengunjung dari luar daerah. Dengan demikian, pembangunan hotel baru tidak hanya merespons kebutuhan kamar saat ini.

“Investor juga membaca peluang pertumbuhan permintaan yang berasal dari perkembangan konektivitas dan aktivitas ekonomi Cirebon,” tandasnya. (Agus)