KOTA CIREBON, (FC).- Pasca dugaan keracunan MBG di SDN Kalijaga Permai, Dinas Pendidikan Kota Cirebon mulai membahas langkah lanjutan untuk menangani dampak psikologis siswa yang masih mengalami trauma.

Meski kondisi kesehatan para siswa dan guru berangsur pulih, kekhawatiran setelah kejadian tersebut masih menjadi perhatian. Bahkan, sejumlah siswa disebut masih merasa takut ketika mendengar program MBG.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kota Cirebon, Handi Sogiyanto mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk membahas tindak lanjut bagi anak-anak yang terdampak.

Handi mengakui, pemulihan korban tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga perlu memperhatikan kondisi psikologis mereka.

“Iya, sudah alhamdulillah normal, tapi tadi disampaikan dari ibu kepala (sekolah) bahwa ada faktor psikologi, trauma lah, yang mungkin sedikit-sedikit nanti kita upayakan untuk dihilangkan,” ujar Handi, Selasa (27/10).

Menurut Handi, koordinasi diperlukan untuk menentukan langkah yang dapat dilakukan bagi siswa setelah mengalami kejadian tersebut. Handi belum merinci bentuk pendampingan yang akan diberikan kepada para siswa.

Namun, pihaknya memastikan persoalan tersebut akan dibahas lebih lanjut bersama pemerintah daerah dan pihak terkait.

Ia juga menyampaikan bahwa pada Rabu (28/10), akan ada agenda pembahasan mengenai MBG yang melibatkan unsur pemerintah daerah. “Intinya besok kita ada kegiatan di Dinkes, mungkin membahas tentang MBG,” ucapnya.

Selain membahas penanganan dampak psikologis siswa, kelanjutan penyaluran MBG di SDN Taman Kalijaga Permai juga masih menunggu perkembangan lebih lanjut. Berdasarkan informasi yang diterimanya, penyaluran MBG di sekolah tersebut diperkirakan dihentikan sementara selama sekitar dua pekan.

Namun, belum ada kepastian mengenai waktu penyaluran kembali. Sekolah juga belum menerima pasokan makanan dari dapur penyedia lain. Hal ini mempertimbangkan hasil pemeriksaan laboratorium dan aspirasi orang tua siswa.

Pihak sekolah sendiri berencana menggelar rapat koordinasi bersama orang tua pada Rabu (28/10). Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi orang tua untuk menyampaikan kekhawatiran, masukan, dan harapan mereka setelah kejadian yang berdampak terhadap siswa dan guru.

Sementara itu, Kepala SDN Taman Kalijaga Permai Cirebon, Fauziyah Hayati Fazrin, sebelumnya mengatakan pihak sekolah ingin memastikan seluruh aspirasi orang tua dapat disampaikan dalam pertemuan tersebut.

“Untuk tindak lanjutnya, kami akan mengadakan rapat koordinasi dengan orang tua murid pada hari Rabu. Kami juga terus berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan pemerintah daerah. Yang penting semua aspirasi orang tua bisa disampaikan saat pertemuan nanti,” ujarnya.

Kekhawatiran terhadap dampak psikologis siswa juga dirasakan pihak sekolah. Pihaknya sempat menanyakan kondisi anak-anak saat mereka kembali mengikuti kegiatan belajar pada Senin pagi.

“Kalau saya langsung tanya kepada murid tadi pagi, mereka pasti ada trauma. Dengar MBG saja sudah gimana gitu,” ungkapnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian di tengah proses pemulihan warga sekolah.

Sebab, meski sebagian besar siswa telah kembali beraktivitas, pengalaman setelah dugaan keracunan masih menyisakan kekhawatiran.

Fauziyah mengatakan, hampir seluruh siswa telah kembali masuk sekolah berdasarkan pengecekan presensi absen pada Senin (26/10). Namun, masih ada satu hingga dua siswa yang menjalani pemulihan di rumah.

Sementara itu, seluruh guru yang sebelumnya terdampak, termasuk yang sempat dirawat di rumah sakit, telah kembali beraktivitas.

Sebagai informasi, dugaan keracunan MBG di SDN Taman Kalijaga Permai berdampak terhadap 98 siswa termasuk tenaga pengajar sekolah. Jumlah tersebut terdiri dari hampir 90 siswa kelas I hingga kelas VI dan delapan orang guru. Para korban mengalami kondisi yang mengharuskan sebagian di antaranya menjalani rawat inap maupun rawat jalan.

“Jadi totalnya ada 98 orang. Sekarang alhamdulillah sudah pulih semua, hanya tinggal satu-dua murid yang masih masa pemulihan di rumah. Yang dirawat di rumah sakit sudah tidak ada,” sebutnya.

Perkembangan tersebut menunjukkan kondisi kesehatan warga sekolah berangsur membaik. Meski demikian, pihak sekolah masih menunggu hasil pembahasan bersama orang tua dan pemerintah daerah terkait tindak lanjut program MBG. (Agus)