Milangkala ke-474, Cipedes Rawat Warisan Leluhur
KUNINGAN, (FC).- Memasuki usia ke-474 tahun, Desa Cipedes, Kecamatan Ciniru, Kabupaten Kuningan, menjadikan momentum milangkala sebagai ajang memperkuat rasa syukur, mengenang jasa leluhur, sekaligus meneguhkan semangat gotong royong masyarakat.
Peringatan milangkala yang digelar Minggu (6/9), diisi dengan doa bersama dan pagelaran wayang golek.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga menjadi upaya menjaga nilai budaya Sunda yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Mengusung filosofi Sunda “hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke” yang bermakna masa kini tidak terlepas dari perjalanan masa lalu, milangkala Desa Cipedes menjadi ruang refleksi terhadap sejarah panjang desa.
Kegiatan tersebut memiliki sejumlah makna, mulai dari ungkapan rasa syukur, memohon keberkahan, mendoakan para sesepuh dan perintis desa, hingga mengevaluasi perjalanan pemerintahan serta pembangunan desa.
Kehadiran wayang golek dalam rangkaian acara juga menjadi simbol kuatnya budaya lokal. Bagi masyarakat Cipedes, kesenian tradisional tersebut bukan sekadar tontonan, melainkan sarana menyampaikan pesan moral, pendidikan karakter dan nilai keagamaan.
Bupati Kuningan, H. Dian Rachmat Yanuar, yang hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi kekompakan masyarakat Desa Cipedes dalam menjaga tradisi dan kebersamaan.
Menurutnya, milangkala bukan hanya perayaan bertambahnya usia desa, tetapi menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan pembangunan dan manfaatnya bagi masyarakat.
“Milangkala bukan sekadar momen untuk mengenang sejarah, tetapi makna terpenting dari acara ini adalah meningkatkan kecintaan kita terhadap desa, diiringi introspeksi, refleksi, dan evaluasi sejauh mana penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan memberi manfaat nyata,” ujar Dian.
Ia mengatakan, kemajuan desa tidak hanya bergantung pada dukungan anggaran pemerintah, tetapi juga dipengaruhi kekuatan sosial masyarakat melalui gotong royong dan keswadayaan.
“Gotong royong menjadi modal penting dalam membangun desa. Semangat kebersamaan ini harus terus dijaga agar pembangunan dapat berjalan bersama,” katanya.
Dian mendorong masyarakat Desa Cipedes terus memperkuat berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, infrastruktur hingga pengembangan ekonomi masyarakat.
Selain menjaga nilai kebersamaan, Bupati juga mengingatkan pentingnya menyiapkan generasi muda yang mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan identitas budaya.
Salah satu nilai yang perlu terus ditanamkan, kata Dian, adalah filosofi Sunda Panca Waluya, yakni cageur, bageur, bener, pinter, dan singer.
Nilai tersebut menjadi pedoman untuk membentuk generasi yang sehat, berakhlak, berintegritas, cerdas dan tanggap.
Dengan semangat menjaga sejarah dan budaya, Milangkala Desa Cipedes ke-474 menjadi pengingat bahwa perjalanan panjang sebuah desa bukan hanya tentang usia, tetapi tentang bagaimana warisan leluhur dan nilai kebersamaan menjadi fondasi pembangunan di masa depan. (Angga)


Tinggalkan Balasan