KUNINGAN, (FC).- Pemerintah Kabupaten Kuningan terus mendorong budaya membaca dan kecakapan masyarakat dalam menyikapi derasnya arus informasi digital. Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui Festival Literasi Kabupaten Kuningan 2026 yang mengusung tema “Tenggelam dalam Literasi, Terbit Generasi Berprestasi”.

Festival yang digelar Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kuningan itu berlangsung di Perpustakaan Umum Daerah Kuningan, Jalan Siliwangi Nomor 216 C, Purwawinangun, Kamis (8/10).

Kegiatan dihadiri Bupati Kuningan H. Dian Rachmat Yanuar, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat H. Kusmana Hartadji, Sekda Kuningan U. Kusmana, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kuningan H. Nurahim, jajaran kepala SKPD, camat, TP PKK, guru, pustakawan, komunitas literasi serta generasi muda.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kuningan H. Nurahim mengatakan, festival tersebut menjadi salah satu upaya meningkatkan minat baca sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap bahan pustaka dan informasi.

“Intinya adalah untuk meningkatkan budaya dan minat baca masyarakat. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan terus berupaya menggalakkan dan melayani masyarakat dalam memenuhi kebutuhan referensi dan bahan pustaka,” ujar Nurahim.

Festival Literasi Kuningan berlangsung 8-11 Oktober 2026 dengan berbagai kegiatan, mulai workshop mendongeng, bedah buku, lomba menggambar, festival band, pemutaran film, bazar buku hingga penghargaan budaya gemar membaca.

Sejumlah lomba juga digelar, di antaranya Lomba Keluarga Literasi, Duta Baca Pelajar dan Mahasiswa, Bertutur tingkat SD/MI, Video Konten Literasi serta Resensi Buku tingkat SMP/MTs dan SMA/SMK sederajat.

Dukungan terhadap gerakan literasi juga ditunjukkan melalui donasi lebih dari 1.400 judul buku dari berbagai pihak.

Workshop mendongeng diikuti sekitar 150 guru PAUD dan TK, sedangkan lomba menggambar melibatkan sekitar 170 siswa PAUD, TK dan SD se-Kabupaten Kuningan.

Festival tersebut sekaligus menjadi ajang apresiasi terhadap prestasi literasi Kuningan di tingkat Jawa Barat. Perpustakaan Insan Cipta Desa Kertayasa, misalnya, berhasil meraih Juara I Lomba Perpustakaan Desa Terbaik tingkat Provinsi Jawa Barat.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat H. Kusmana Hartadji mengatakan, tantangan literasi saat ini semakin kompleks seiring pesatnya perkembangan teknologi dan arus informasi media sosial.

Menurutnya, literasi tidak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis. Masyarakat juga dituntut mampu memahami, memilah dan mengevaluasi informasi sebelum menggunakannya.

“Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis saja. Literasi merupakan kemampuan untuk memahami informasi, berpikir kritis, mengembangkan pengetahuan, berkomunikasi, berkarya, serta mengambil keputusan secara bijak,” jelasnya.

Ia menilai kemampuan menyaring informasi menjadi semakin penting karena masyarakat saat ini tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga dapat dengan mudah memproduksi dan menyebarkannya.

“Di tengah perubahan teknologi dan arus informasi yang semakin cepat, kemampuan literasi menjadi semakin penting. Masyarakat tidak hanya dituntut mampu mengakses informasi, tetapi juga memilah, memilih, mengevaluasi dan mengonsumsi informasi secara bertanggung jawab,” katanya.

Kusmana juga mendorong perpustakaan agar tidak hanya berorientasi pada pembangunan gedung dan kelengkapan sarana. Pelayanan langsung kepada masyarakat harus menjadi perhatian utama.

“Pustakawan harus turun ke lapangan. Yang terpenting 70 persen pelayanan, sarana prasarana cukup 30 persen saja,” ujarnya.

Menurutnya, perpustakaan perlu dikembangkan sebagai ruang kolaborasi, tempat belajar, bertukar pengalaman, membangun komunitas hingga melahirkan gagasan baru.

“Literasi itu membawa kesejahteraan. Bukan hanya berperan dalam literasi, tetapi juga secara ekonomi dapat meningkatkan pendapatan masyarakat,” tegasnya.

Dalam kegiatan tersebut, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar mengukuhkan Hj. Ela Helayati, sebagai Bunda Literasi Kabupaten Kuningan 2026. Selanjutnya, Bunda Literasi Kabupaten Kuningan mengukuhkan Ketua TP PKK dari 15 kecamatan sebagai Bunda Literasi Kecamatan.

Bupati Dian mengatakan pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik. Peningkatan kualitas sumber daya manusia harus berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur.

Menurutnya, literasi menjadi fondasi penting agar masyarakat, khususnya generasi muda, mampu memahami perubahan, berpikir kritis dan menentukan pilihan secara bijak.

“Literasi yang baik bukan hanya sekadar membaca saja, bukan hanya ngapalkeun. Tapi bagaimana kita dan anak-anak kita memahami isi dunia, perubahan yang terjadi, mengambil kebenaran, mengambil kebijaksanaan, memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk, serta menghadirkan gagasan-gagasan untuk menghadirkan sebuah perubahan,” ungkapnya.

Dian menyoroti perubahan pola produksi dan konsumsi informasi di era media sosial. Masyarakat kini dapat menjadi pembaca sekaligus pembuat dan penyebar informasi.

Karena itu, kemampuan memeriksa fakta dan memahami data dinilai penting agar masyarakat tidak mudah mengambil kesimpulan dari informasi yang beredar.

“Sekarang bukan lagi bagaimana mendapatkan informasi, bagaimana mengakses informasi. Tetapi bagaimana membedakan informasi dengan pengetahuan, pengetahuan dengan kebijaksanaan, dan yang terpenting kebijaksanaan dengan kebenaran,” tegasnya.

Terkait tema festival, Dian menjelaskan kata “tenggelam” bukan berarti kehilangan arah, melainkan menyelami ilmu dan pengetahuan secara mendalam.

“Tenggelam itu bukan tilelep, bukan kehilangan arah, bukan tidak berdaya. Tetapi menyelami pengetahuan sedalam-dalamnya,” jelasnya.

Menurut Dian, pemahaman tersebut diharapkan melahirkan gagasan, karya dan prestasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Dari pemahaman itu lahir gagasan. Dari gagasan lahir karya. Dari karya lahir prestasi. Dari prestasi lahir sebuah generasi yang paham tentang harus berbuat apa untuk memberikan manfaat bagi orang lain,” tuturnya.

Ia juga mengajak keluarga menjadi lingkungan pertama dalam membangun budaya literasi. Kebiasaan membaca, kata dia, harus ditumbuhkan dari rumah melalui keteladanan orang tua.

“Jadi mari kita tumbuhkan budaya literasi tidak hanya di sekolah, tetapi di rumah,” katanya.

Dian menegaskan Kuningan membutuhkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki karakter, kemampuan berpikir kritis, kreativitas dan daya cipta.

“Kita tidak sedang membangun generasi yang pintar. Kita sedang membangun generasi yang berkarakter, cerdas, berpikir, berdaya cipta, berkreasi dan berprestasi,” tegasnya.

Ia berharap Festival Literasi tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi menjadi momentum memperkuat gerakan literasi secara berkelanjutan di keluarga, sekolah, masyarakat dan komunitas.

“Mari kita tenggelam lebih dalam untuk lautan ilmu. Agar dari sana kelak terbit generasi muda yang berprestasi, berkarakter, berbudaya, mencintai Kuningan untuk membangun, mencintai Kuningan untuk lebih maju,” ujarnya.

Festival Literasi Kabupaten Kuningan 2026 kemudian resmi dibuka Bupati Dian. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi yang mampu menghadapi perubahan zaman melalui budaya membaca, kemampuan berpikir kritis dan kecakapan mengolah informasi. (Angga)