KUNINGAN, (FC).- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) belum sepenuhnya teratasi. Hingga Rabu (9/9), api diperkirakan telah melalap sekitar 40 hektare kawasan hutan, sementara sejumlah titik masih mengeluarkan asap.

Kondisi tersebut membuat Bupati Kuningan H. Dian Rachmat Yanuar turun langsung ke lokasi untuk memastikan penanganan berjalan dan melihat kondisi kawasan yang terbakar.

Dian mengatakan, kebakaran pertama kali terdeteksi di Blok Cileutik pada Senin (7/9). Api kemudian merambat ke sejumlah titik hingga luas area terdampak diperkirakan mencapai 40 hektare.

“Sekarang berdasarkan laporan, sudah sekitar kurang lebih 40 hektare area yang terbakar. Namun sampai perkembangan hari ini, sudah mulai padam di beberapa titik,” ujar Dian.

Meski sebagian kobaran berhasil dikendalikan, Dian mengingatkan kondisi kawasan belum sepenuhnya aman. Asap yang masih terlihat menunjukkan adanya titik yang harus dipastikan benar-benar padam.

Menurutnya, karhutla di kawasan hutan tidak dapat dinyatakan selesai hanya karena kobaran api sudah tidak terlihat. Pendinginan dan pemantauan tetap harus dilakukan untuk mencegah munculnya kembali bara api.

“Persoalan di hutan itu kan tidak bisa dilihat hanya dari padam asapnya, karena dimungkinkan, dan saya lihat tadi ada beberapa titik yang belum padam sepenuhnya,” katanya.

Upaya pemadaman juga menghadapi tantangan berat akibat angin kencang. Kondisi tersebut membuat api berpotensi melewati sekat bakar yang telah dibuat petugas dan menyebar ke titik lain.

“Kita lihat ke arah atas, teman-teman juga mungkin ada yang membuat sekat bakar, tapi ini rawan karena angin besar di Kuningan hari-hari ini, jadi api itu menyeberang, melompat,” tutur Dian.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan Indra Bayu Permana menambahkan, medan terjal menjadi salah satu kendala utama dalam penanganan. Akses menuju sejumlah titik kebakaran cukup sulit karena kondisi jalan berbatu dan curam.

Selain medan, petugas juga menghadapi cuaca panas, arah angin yang berubah-ubah serta keterbatasan sumber air. Kondisi vegetasi yang kering akibat kemarau turut mempercepat penjalaran api.

“Memang ada beberapa kesulitan, di antaranya akses jalan cukup terjal dan banyak batu-batu, angin yang berubah-ubah arah, cuaca panas, sulitnya sumber air. Namun kita upayakan supaya sebaran api tidak meluas,” ujar Indra.

Untuk mempersempit sebaran api, personel gabungan dari BPBD, Balai TNGC, TNI, Polri, relawan dan masyarakat peduli api (MPA) dikerahkan ke sejumlah titik.

Pemadaman dilakukan secara langsung menggunakan peralatan yang tersedia, termasuk metode manual pada lokasi yang sulit dijangkau. Personel juga terus melakukan pemantauan terhadap area yang sebelumnya telah dipadamkan.

Dian mengapresiasi seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan karhutla, mulai BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, Polres, Kodim, Yonif, jajaran Balai TNGC, relawan hingga masyarakat.

Ia berharap kerja keras tim gabungan segera membuahkan hasil sehingga seluruh titik api dapat dikendalikan dan tidak terjadi kebakaran susulan.

“Mohon doa dari seluruh warga masyarakat Kuningan, mudah-mudahan api ini segera cepat dipadamkan,” harapnya.

Hingga Rabu sore, proses pemadaman dan pendinginan masih berlangsung. Tim gabungan tetap bersiaga untuk memastikan bara yang tersisa tidak kembali memicu kobaran api di kawasan konservasi Gunung Ciremai. (Angga)