Telkom University Petakan Persoalan Kerajinan Gerabah Desa Sitiwinangun melalui FGD
CIREBON, (FC).- Desa Wisata Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, memiliki ciri khas kerajinan gerabah dengan ornamen khas yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Gerabah di desa ini dikenal memiliki karakteristik tersendiri dari goresan yang dihasilkan dan pasarnya pun memiliki potensi yang cukup luas.
Demikian diungkapkan akademisi dari Telkom University, Sri Dewi Setiawati, usai FGD dengan menghadirkan pihak akademisi dari ITB, para perajin gerabah Desa Sitiwinangun, serta pihak Disbudpar Kabupaten Cirebon di salah satu hotel di Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon.
FGD ini dilakukan untuk pemetaan kebutuhan dan ekosistem kerajinan gerabah Desa Sitiwinangun.
“Ciri khasnya, pertama dari bahan baku gerabah di Desa Sitiwinangun ini sudah berbeda dibandingkan gerabah daerah lainnya seperti Plered atau Kasongan, bedanya yaitu bahan bakunya cukup kuat dan dilakukan dengan metode pembakaran dengan suhu relatif tinggi tapi gerabahnya tidak retak. Daerah lain tidak sekuat itu,” ujar Sri Dewi, Kamis (5/11).
Kemudian, ciri khas lainnya adalah dari ornamennya yang memiliki karakteristik tersendiri yang dipengaruhi oleh warisan leluhur, suku, agama, dan ras yang akhirnya memiliki potensi besar di pasar.
“Kuantitas goresannya unik, mungkin itu yang menjadi pembeda juga dengan daerah penghasil gerabah lainnya,” tuturnya.
Meski demikian, bayang-bayang regenerasi perajin di desa ini kerap menghantui. Sejak berakhirnya masa Covid-19 beberapa tahun silam, perajin gerabah berjumlah 70 orang, namun terus berkurang dan saat ini berjumlah 48 orang.
“Perajin berkurang, tentu ini jadi tantangan tersendiri,” tuturnya.
Selain itu, persoalan lainnya adalah belum adanya pendampingan terhadap perajin untuk pemasaran di media digital.
“Maka kami dari Telkom University melalui FGD ini ingin mencari solusi atas persoalan itu. Pihak akademisi membangun kolaborasi baik dengan sesama akademisi yaitu ITB, Pemkab Cirebon, juga Bank Indonesia, harapan kami FGD ini bisa menjawab persoalan itu, entah nantinya melalui pengabdian masyarakat atau riset lainnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebutuhan pasar gerabah ini terbuka lebar, terlebih dengan kekhasan ornamen yang dimiliki oleh gerabah di Desa Sitiwinangun ini.
“Harapan kita, generasi muda bisa bertambah dan kreasinya bisa memenuhi pasar. Pasar digital pun sangat terbuka lebar, dari FGD ini diharapkan bisa berkolaborasi dengan baik untuk meningkatkan minat generasi muda untuk mempelajari membuat gerabah,” katanya.
Sementara itu, Kabid Promosi dan Ekonomi Kreatif Disbudpar Kabupaten Cirebon, Ahmad Bayu mengatakan, Pemkab Cirebon membutuhkan kolaborasi dengan pihak lainnya agar ekosistem perajin gerabah di Desa Sitiwinangun terus bertumbuh.
“Desa Sitiwinangun ini sudah ditetapkan menjadi Desa Wisata sejak 2024, dah juga sudah masuk sebagai warisan budaya tak benda. Ini butuh pengembangan bersama untuk fokus membangun daya tarik, khususnya di sektor pemberdayaannya,” ujar Ahmad Bayu.
Ia menambahkan, beberapa hal yang sudah dilakukan Disbudpar untuk mengenalkan gerabah Desa Sitiwinangun ini adalah dengan mengajak masyarakat berkeliling menggunakan bus Cirebon Katon, dan salah satu agendanya adalah membeli souvenir gerabah Desa Sitiwinangun.
“Dan tentu tidak hanya Disbudpar sendiri untuk mengembangkan itu, kami juga menggandeng Disdik agar ada edukasi untuk anak-anak sekolah, atau koperasi di desa tersebut bisa kerjasama dengan dinas terkait,” tuturnya.
Untuk beberapa persoalan di Desa Sitiwinangun yang mencuat dalam FGD ini, menurutnya, bisa menjadi bahan masukan bagi Disbudpar untuk kemudian diupayakan masuk ke dalam program berikutnya. (Agus)



Tinggalkan Balasan