Kuningan Siapkan Personel dan Logistik Hadapi Bencana Musim Hujan
KUNINGAN, (FC).- Ancaman banjir, tanah longsor, pergerakan tanah, hingga angin puting beliung menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Kuningan memasuki musim hujan 2026/2027.
Seluruh unsur penanggulangan bencana mulai disiagakan, termasuk personel, peralatan operasional, dan logistik untuk menghadapi kemungkinan keadaan darurat.
Kesiapan tersebut ditandai melalui Apel Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Hidrometeorologi Musim Hujan 2026/2027 di halaman Kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan, Rabu (4/11).
Apel dipimpin Bupati Kuningan H Dian Rachmat Yanuar dan melibatkan perangkat daerah, TNI-Polri, relawan, organisasi kemanusiaan, serta unsur kewilayahan.
Dian mengatakan, kondisi geografis dan klimatologis Kuningan membuat sejumlah wilayah berpotensi terdampak bencana hidrometeorologi. Terlebih, memasuki musim hujan, intensitas curah hujan dapat meningkatkan risiko banjir dan longsor.
Ia mencontohkan kejadian angin puting beliung yang sebelumnya melanda Desa Mekarsari dan Buniasih, Kecamatan Maleber, hingga menyebabkan puluhan rumah rusak. Bencana serupa juga terjadi di 10 desa di Kecamatan Luragung dan Cidahu.
“Kita berharap mudah-mudahan tidak terjadi, tetapi melalui langkah-langkah antisipatif seperti apel kesiapsiagaan ini, korban maupun dampak bencana yang ditimbulkan bisa kita minimalisir,” kata Dian.
Untuk mengurangi risiko bencana, Dian meminta seluruh perangkat daerah dan unsur terkait memperkuat pemetaan wilayah rawan, memantau perkembangan cuaca, serta memastikan informasi peringatan dini tersampaikan kepada masyarakat.
Kesiapan personel dan logistik juga harus dipastikan agar penanganan dapat dilakukan tanpa menunggu terlalu lama.
Selain itu, koordinasi lintas sektor, edukasi kebencanaan, dan simulasi evakuasi mandiri perlu ditingkatkan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.
Dian juga mengingatkan pentingnya pencegahan yang dapat dilakukan masyarakat. Salah satunya menjaga kebersihan saluran air dan drainase agar tidak tersumbat sampah yang berpotensi memicu banjir.
“Hal sederhana seperti membersihkan gorong-gorong dan saluran air dari sampah dapat membantu meminimalisir dampak banjir. Karena itu, saya mohon dukungan seluruh aparatur pemerintahan, termasuk di tingkat desa, agar kegiatan seperti ini terus ditindaklanjuti,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dian turut mengapresiasi keterlibatan berbagai unsur dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan di lereng Gunung Ciremai beberapa waktu lalu.
Menurutnya, kerja sama lintas sektor menjadi faktor penting dalam menghadapi bencana, terutama di wilayah dengan medan yang sulit.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan Indra Bayu Permana mengatakan, apel kesiapsiagaan menjadi momentum peralihan fokus penanganan bencana dari siaga kekeringan menuju antisipasi bencana hidrometeorologi basah.
Menurut Indra, seluruh kekuatan yang dimiliki daerah perlu diinventarisasi, mulai dari personel, peralatan, perlengkapan hingga logistik. Langkah tersebut diperlukan agar setiap unsur memahami tugas dan pola koordinasi ketika terjadi keadaan darurat.
“Melalui apel siaga ini, kita ingin menyinergikan dan mengoordinasikan semua pihak, baik dari aspek pemerintahan, kewilayahan maupun teknis dalam penanggulangan kebencanaan,” jelasnya.
Unsur yang dilibatkan meliputi perangkat daerah, TNI-Polri termasuk Yonif, serta organisasi kemanusiaan dan relawan seperti PMI dan Tagana.
Seluruh kekuatan tersebut diharapkan dapat bergerak dalam satu koordinasi sehingga penanganan bencana berlangsung cepat dan terpadu.
Pemkab Kuningan berharap penguatan kesiapsiagaan tersebut mampu menekan risiko dan dampak bencana selama musim hujan 2026/2027, sekaligus memastikan keselamatan masyarakat menjadi prioritas. (Angga)



Tinggalkan Balasan