Bupati Majalengka Nostalgia Jadi Anak Desa, Festival Bumi Bantaragung Rawat Tradisi Leluhur
MAJALENGKA, (FC).– Festival Bumi Bantaragung kembali menyemarakkan Desa Wisata Bantaragung, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Minggu (1/11).
Festival yang mengangkat tradisi leluhur masyarakat agraris ini bukan sekadar perayaan hasil panen, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur, kebersamaan, dan upaya melestarikan kearifan lokal.
Menariknya, festival tahunan tersebut kini resmi masuk dalam daftar Calendar of Event (CoE) Kabupaten Majalengka. Status ini menjadi langkah penting dalam memperkuat posisi Desa Wisata Bantaragung sebagai salah satu destinasi wisata budaya yang mengandalkan kekayaan tradisi dan potensi lokal.
Kemeriahan festival ditandai dengan iring-iringan hasil bumi atau hasil tatanen (bercocok tanam) yang dibawa masyarakat. Beragam hasil pertanian tersebut menjadi simbol nyata hubungan erat masyarakat dengan alam yang selama ini memberikan kehidupan dan sumber penghidupan.
Bupati Majalengka Eman Suherman, mengapresiasi konsistensi masyarakat Desa Bantaragung yang setiap tahun menggelar festival tersebut sebagai bentuk tasyakur bin nikmat atas limpahan rezeki dan hasil bumi.
Menurutnya, Festival Bumi Bantaragung memiliki makna lebih dalam daripada sekadar mempertontonkan hasil pertanian. Tradisi tersebut mencerminkan kuatnya kebersamaan dan semangat gotong royong masyarakat dalam menjaga desa yang menjadi sumber kehidupan mereka.
“Festival Bumi Bantaragung ini merupakan bentuk tasyakur bin nikmat masyarakat Desa Bantaragung yang setiap tahun rutin melaksanakan kegiatan ini. Tidak lain sebagai wujud kebersamaan dan kegotongroyongan masyarakat yang merasakan bahwa desanya memberikan kehidupan luar biasa,” ujar Eman.
Ia menuturkan, iring-iringan hasil bumi yang ditampilkan dalam festival merupakan gambaran rasa syukur masyarakat atas keberhasilan di berbagai sektor, mulai dari pertanian, perdagangan hingga usaha lainnya.
Eman menegaskan, hasil bumi yang diarak bukan untuk menunjukkan kemewahan atau keberhasilan secara berlebihan, melainkan sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang telah diberikan Tuhan melalui kesuburan alam dan kerja keras masyarakat.
“Ini bukan untuk riya, tetapi sebagai bentuk tasyakur. Masyarakat di sini telah melaksanakan tatanen di bidang pertanian, kemudian juga di bidang lainnya. Ada yang sukses berdagang dan berbagai usaha lainnya,” katanya.
Ada hal menarik ketika Bupati Eman Suherman memikul prosesi membawa hasil pertanian dalam festival tersebut. Tradisi memikul hasil panen mengingatkannya pada kehidupan masa kecil sebagai anak desa yang terbiasa bekerja di sawah. Ia mengaku memiliki kenangan tersendiri ketika dahulu membantu membawa hasil panen dengan cara dipikul atau dalam istilah Sunda disebut nanggung.
Bahkan, Eman mengungkapkan, dirinya dahulu terbiasa memikul hasil panen hingga sekitar satu kuintal. Karena itu, melihat masyarakat Bantaragung mengangkat hasil pertanian dalam festival tersebut membangkitkan kembali kenangan masa lalunya.
“Saya teringat masa lalu. Saya ini orang desa dan terbiasa nanggung hasil panen dari sawah. Kurang lebih satu kuintal sering saya pikul. Jadi, ketika tadi melihat hasil tatanen dipikul, rasanya ingin kembali merasakan bagaimana pundak ini membawa hasil panen,” tuturnya.
Eman juga menyampaikan filosofi menarik tentang pundak manusia yang digunakan untuk memikul beban. Menurutnya, berbeda dengan benda buatan manusia yang bisa semakin turun ketika mendapat tekanan, pundak manusia justru semakin terlatih dan kuat ketika digunakan untuk bekerja.
“Filosofi tersebut menggambarkan bahwa kerja keras, ketekunan, dan kebersamaan merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat agraris,” katanya.
Masuknya Festival Bumi Bantaragung dalam Calendar of Event Kabupaten Majalengka diharapkan semakin memperkuat daya tarik wisata daerah, khususnya wisata berbasis budaya dan kearifan lokal.
Lebih dari sekadar agenda tahunan, festival ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan tradisi leluhur sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya dan hasil bumi kepada wisatawan.
Selain mempererat hubungan sosial melalui gotong royong, kegiatan tersebut juga membuka peluang pengembangan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata, UMKM, dan produk unggulan desa. Pemerintah Kabupaten Majalengka pun memberikan apresiasi terhadap inisiatif masyarakat yang mampu menjaga tradisi sekaligus mengemasnya menjadi daya tarik wisata.
Festival Bumi Bantaragung, Kabupaten Majalengka, menjadi bukti bahwa warisan budaya tidak hanya perlu dikenang, tetapi juga harus terus dihidupkan agar menjadi identitas dan kebanggaan generasi mendatang. (Munadi)



Tinggalkan Balasan