Dukung Ketahanan Pangan, KKM UMC Edukasi Warga Gunungwangi Budidaya Hidroponik dari Botol Bekas
MAJALENGKA, (FC).– Keterbatasan lahan kerap menjadi alasan masyarakat untuk tidak mencoba bercocok tanam di rumah. Di sisi lain, sampah rumah tangga masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.
Dari kedua permasalahan itu mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) merancang solusi berkelanjutan melalui sebuah praktik sederhana yakni mengubah botol bekas menjadi media budidaya sayuran.
Melalui workshop edukatif berjudul “Dari Sampah, Wujudkan Desa Lestari dan Mandiri”, mahasiswa KKM UMC mengajak masyarakat di sejumlah blok Desa Gunungwangi, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka.
Workshop tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal sekaligus mempraktikkan budidaya sayuran dengan sistem hidroponik NFT sederhana menggunakan botol bekas.
Program tersebut digagas oleh Izzaz Hasan Muttaqin sebagai program kerja individu KKM.
Gagasan tersebut kemudian diaplikasikan bersama kelompok untuk menjangkau sasaran masyarakat yang lebih luas.
Alih-alih memandang botol plastik sebagai barang yang sudah tidak berguna, mahasiswa KKM memperkenalkan cara memanfaatkannya kembali sebagai media hidroponik sederhana.
Konsep tersebut sekaligus menawarkan alternatif bagi masyarakat yang ingin menghasilkan sayuran sendiri meski memiliki keterbatasan lahan.
Dalam praktiknya, satu botol plastik dimanfaatkan menjadi dua bagian. Bagian bawah digunakan sebagai wadah penampung air, sementara bagian atas berfungsi menopang tanaman. Bagian atas botol ditempatkan secara terbalik dan tutupnya dilubangi untuk memasukkan kain flanel yang berfungsi menghantarkan air menuju media tanam.
Bibit sayuran kemudian ditanam menggunakan rockwool. Melalui sistem tersebut, air dari bagian bawah botol dapat diserap menuju media tanam melalui kain flanel sehingga tanaman tetap memperoleh kebutuhan air tanpa memerlukan lahan tanah yang luas.
Inilah konsep tanaman Hidroponik NFT yang dikenalkan mahasiswa yang bisa diaplikasikan dalam skala rumah tangga.
Namun, konsep yang diperkenalkan KKM UMC tidak berhenti pada pemanfaatan botol plastik. Workshop juga menghubungkan budidaya hidroponik dengan pengolahan sampah organik melalui Eco-enzyme.
Eco-enzyme diperkenalkan sebagai cairan hasil fermentasi bahan organik, seperti sisa makanan, dengan larutan gula merah selama kurang lebih 90 hari. Hasil fermentasi tersebut kemudian dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pendukung nutrisi atau pupuk cair bagi tanaman.
Dan hidroponik yang dihasilkan dijadikan taman hijau Eco Garden sebagai bentuk apresiasi masyarakat dalam mengelola sampah sekaligus menjadi ikon yang menghiasi berbagai wilayah di desa Gunungwangi.
Melalui pendekatan Door to Door pada masyarakat, mahasiswa KKM UMC mengedukasi masyarakat tiap blok desa Gunungwangi dengan praktik dan demonstrasi.
Dengan pendekatan tersebut, masyarakat diajak melihat sampah dalam perspektif yang berbeda. Sampah plastik dapat dimanfaatkan kembali sebagai media tanam, sementara sampah organik dapat diolah menjadi bahan yang mendukung kegiatan budidaya.
Bagi masyarakat, praktik langsung membuat gagasan tersebut lebih mudah dipahami.
Nana, Ketua RT Blok Senin, menilai kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai pemanfaatan sampah.
“Yang tadinya sayuran harus dibeli, sekarang bisa produksi sendiri tanpa menggunakan tanah. Mudah-mudahan ke depannya bisa meningkatkan ekonomi buat masyarakat Desa Gunungwangi,” ujar Nana.
Antusiasme masyarakat juga terlihat dari munculnya keinginan untuk mencoba setelah mengikuti praktik. Salah seorang warga mengatakan bahwa kegiatan tersebut membuatnya tertarik untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh di rumah.
“Setelah saya pulang dari sini, insyaallah saya mau mencoba mencari bahan-bahannya,” ujar seorang warga.
Bukan hanya hidroponik yang menarik perhatian warga. Workshop tersebut juga mendorong masyarakat untuk mulai melihat kembali sampah yang selama ini dibuang begitu saja.
Irvan, Kasi Kesejahteraan Desa Gunungwangi, melihat keterkaitan antara hidroponik, Eco garden, dan Eco-enzyme sebagai satu rangkaian pemanfaatan sampah. Ia berharap inovasi yang diperkenalkan mahasiswa dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat. Bahkan, ia mengaku tertarik mencoba membuat eco enzyme setelah mengikuti kegiatan tersebut.
“Saya biasanya sampah itu langsung dibuang aja dikubur. Nanti saya coba buat sendiri larutan Eco-enzyme itu,” katanya.
Bagi masyarakat Gunungwangi, persoalan sampah bukan hal yang sepenuhnya baru. Karena itu, hadirnya workshop yang memberikan contoh pemanfaatan secara langsung dinilai menjadi pengalaman yang berbeda.
Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa workshop tidak hanya berhenti pada penyampaian materi.
Praktik sederhana yang dilakukan bersama membuka kemungkinan bagi masyarakat untuk mencoba kembali di lingkungan rumah masing-masing.
Melalui workshop “Dari Sampah, Wujudkan Desa Lestari dan Mandiri” KKM UMC berupaya mempertemukan pengelolaan sampah dengan ketahanan pangan melalui teknologi sederhana yang dapat dipraktikkan masyarakat.
Botol bekas yang sebelumnya dianggap tidak bernilai diberi fungsi baru sebagai media hidroponik, sementara sampah organik diperkenalkan untuk diolah menjadi Eco-enzyme.
Gagasan tersebut bukan semata tentang membuat satu tanaman tumbuh di dalam botol. Mahasiswa KKM UMC ingin menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari apa yang tersedia di sekitar masyarakat. Mulai dari sampah yang dipilah, barang bekas yang dimanfaatkan, dan ruang kecil di depan rumah yang dapat menjadi tempat menghasilkan ketahanan pangan bagi masyarakat. (Rls)


Tinggalkan Balasan