KOTA CIREBON, (FC).- Semangat gotong royong ditunjukkan warga RW 11 Benda Kerep, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Secara swadaya, warga membangun bronjong sebagai upaya pencegahan longsor sekaligus penguatan tebing bantaran sungai.
Langkah tersebut dilakukan menyusul kondisi bantaran Kali Benda yang hingga kini belum dilengkapi tanggul atau pengaman.
Padahal, struktur kiri dan kanan sungai berupa tebing curam dengan ketinggian mencapai sekitar 10 meter, sementara di bagian atasnya berdiri permukiman warga.
Pembangunan bronjong dilakukan secara swadaya, mulai dari pengadaan material hingga pengerjaan di lapangan. Warga bahu-membahu demi meminimalisasi risiko longsor, terutama saat musim hujan.
Lurah Argasunya, Mardiansyah, mengatakan wilayah Benda Kerep memiliki kontur tanah yang rawan longsor. Kondisi tersebut semakin berisiko ketika hujan deras disertai luapan air sungai.
“Bronjong ini dibuat agar tidak terjadi longsor, apalagi saat hujan deras, ketika luapan air sungai bisa mencapai permukiman warga,” ujar Mardiansyah kepada wartawan, Sabtu (24/1/2026).
Ia menegaskan, keterbatasan anggaran tidak menyurutkan semangat warga untuk melakukan langkah-langkah antisipatif.
Untuk material bronjong, seperti ban bekas, diperoleh dari swadaya masyarakat, seperti sumbangan dari para alumni Pondok Pesantren Benda Kerep, sementara kebutuhan lainnya berasal dari swadaya masyarakat sekitar.
“Kami berharap pembangunan bronjong ini bisa memberikan rasa aman bagi warga, khususnya saat curah hujan tinggi,” katanya.
Mardiansyah mengungkapkan, persoalan bantaran Kali Benda bukanlah masalah baru. Kondisi tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun dan sudah berulang kali disampaikan warga kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung.
Berdasarkan laporan para RW, pengajuan penanganan bantaran sungai telah dilakukan sejak 2020. Bahkan, pihak kelurahan kembali mengajukan usulan perbaikan pada 2023.
“Sudah kami ajukan ulang pada 2023, tetapi sampai sekarang belum ada kejelasan,” ujarnya.
Menurut Mardiansyah, Kali Benda membentang lebih dari dua kilometer di wilayah Kelurahan Argasunya, mulai dari Jembatan Lebak Ngok hingga kawasan Masjid Kalilunya dan Kedung Krisik. Sepanjang aliran tersebut, bantaran sungai masih dibiarkan tanpa tanggul maupun penyangga tebing.
“Sepanjang aliran itu belum ada pengaman tebing. Inilah yang membuat wilayah Argasunya sangat rawan longsor,” pungkasnya. (Agus)











































































































Discussion about this post