KOTA CIREBON, (FC).-Di sudut Gang Pulo Kaca RT 02 RW 08 Nomor 41, Kelurahan Pekalipan, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, Sri Puspitasari (67) menjalani hari-harinya di rumah tua yang nyaris runtuh.
Bangunan yang ia tempati bersama suaminya, Hadiyanto (53), merupakan warisan orang tuanya dan terakhir diperbaiki pada 1974. Sejak itu, tak ada renovasi berarti. Kini atapnya berlubang, kayu penyangga lapuk, dan genting berjatuhan satu per satu.
Saat siang, cahaya matahari bebas masuk dari celah atap. Ketika malam tiba, angin berembus tanpa penghalang. Jika hujan turun deras, air menggenangi ruangan. Terpal biru menjadi satu-satunya pelindung dari ancaman cuaca.
“Takut kalau tidur suka ada bunyi prak-pruk. Besoknya lihat genting sudah jatuh,” tutur Sri, Selasa (24/2/2026).
Lima tahun terakhir menjadi masa paling berat baginya. Sejak rumah itu kian rusak, tidur nyenyak tak lagi ia rasakan. Setiap bunyi kayu retak membuatnya terjaga. Setiap hujan menghadirkan rasa cemas. “Tidak pernah nyenyak. Takut kerubuhan,” katanya lirih.
Keterbatasan ekonomi membuatnya tak mampu memperbaiki rumah tersebut. Untuk kebutuhan makan sehari-hari pun, ia kerap bergantung pada bantuan keluarga. “Kadang kalau tidak masak, kakak ipar yang kirim,” ujarnya.
Dahulu, Sri pernah berjualan nasi kuning bahkan berdagang di Pasar Kanoman sejak pukul 03.30 WIB. Namun, kondisi kesehatannya menurun akibat vertigo, sehingga usaha itu terhenti. Kini ia hanya menyimpan harapan sederhana untuk kembali membuat kue kering seperti dahulu.
“Inginnya dibetulkan… ingin bikin kue kering lagi. Sehari dahulu bisa empat kilo. Kalau jualan laris, capai juga tidak terasa,” ucapnya.
Setiap berdoa di gereja, air matanya kerap jatuh. Ia tak hanya memohon pertolongan untuk dirinya, tetapi juga mendoakan siapa pun yang kelak membantunya. “Saya doakan yang menolong saya biar sukses. Siapa saja yang ingat saya,” katanya.
Ketua RW 08, Adi Gumelar (41), mengungkapkan pihaknya telah mengajukan bantuan rumah tidak layak huni (Rutilahu) sejak tahun lalu ke Dinas Sosial, Baznas, hingga program tingkat kota. Namun hingga kini belum terealisasi.
Menurut Adi, kendala utama terletak pada administrasi sertifikat rumah yang rusak akibat banjir. Dokumen tersebut tengah diurus ulang di Badan Pertanahan Nasional (BPN), sementara sertifikat menjadi syarat pencairan bantuan.
“Ini sudah bukan rumah tidak layak huni lagi. Ini rumah yang hampir ambruk. Takutnya kalau terlalu lama, ada korban,” tegas Adi.
Ia juga menyoroti data kesejahteraan yang dinilai tidak sesuai. Dalam data kelurahan, Sri tercatat pada Desil 10 atau kelompok yang dianggap paling mampu. “Kalau menurut saya, ini harusnya Desil 1, bukan Desil 10. Makan saja dari bantuan sukarelawan,” ujarnya.
Adi berharap pemerintah dari tingkat kelurahan hingga wali kota turun langsung meninjau kondisi tersebut. Ia bahkan membuka kemungkinan penggalangan donasi warga atau relokasi sementara demi keselamatan Sri dan suaminya. “Ini sudah menyangkut nyawa,” katanya.
Pada usia senja, Sri hanya menginginkan tempat tinggal yang aman dan layak. Ia tak berharap rumah mewah, cukup atap yang tak lagi mengancam runtuh setiap malam.
Dibawah terpal biru yang menahan hujan dan angin, ia terus bertahan. Menunggu uluran tangan yang hingga kini belum juga datang. (Agus)











































































































Discussion about this post