KAB. CIREBON, (FC).- Kebakaran yang menghanguskan kawasan hutan lindung Gunung Ciremai memicu keprihatinan Anggota Komisi VIII DPR RI, Selly Andriani Gantina.

Ia meminta pemerintah memperkuat mitigasi bencana dan perlindungan lingkungan untuk mengantisipasi dampak El Nino, termasuk ancaman kekeringan dan krisis air bersih.

Selly menilai, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan. Penanganan tidak cukup dilakukan ketika bencana terjadi, tetapi perlu disertai langkah pencegahan dan perencanaan jangka panjang guna menjaga kelestarian kawasan Gunung Ciremai.

“El Nino ini bukan hanya terjadi di wilayah luar Jawa seperti Kalimantan dan Papua, tetapi ternyata juga terjadi di Jawa, khususnya Jawa Barat,” ujar Selly, Jumat (23/10).

Menurutnya, penanganan dampak kekeringan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah kabupaten, provinsi, maupun pusat. Diperlukan kolaborasi lintas sektor serta partisipasi masyarakat agar upaya mitigasi berjalan efektif.

Selain mengantisipasi kekeringan, Selly menyoroti pentingnya menjaga kawasan puncak Gunung Ciremai dari alih fungsi lahan.

Ia mengingatkan, perubahan fungsi kawasan yang tidak terkendali berpotensi mengganggu kelestarian lingkungan dan mengancam keberadaan sumber mata air yang dibutuhkan masyarakat.

“Bagaimana pemerintah daerah bisa tetap menjaga kelestarian di puncak Gunung Ciremai agar alih fungsi penggunaan kawasan lindung ini betul-betul dimaksimalkan, mengingat wilayah Kuningan sudah banyak yang beralih fungsi,” tegasnya.

Selly juga mengingatkan potensi berlanjutnya fenomena El Nino hingga 2027 berdasarkan prediksi BMKG yang disampaikannya.

Karena itu, pemerintah daerah diminta menyiapkan langkah antisipasi sejak dini agar dampak kekeringan tidak semakin meluas.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan, lanjut dia, adalah reboisasi dan penguatan penghijauan, disertai perlindungan kawasan hutan.

Langkah tersebut perlu direncanakan bersama oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Kuningan, serta pemerintah kabupaten/kota di sekitarnya.

“Mitigasi antisipasi di tahun 2027 nanti harus sudah terencana dari sekarang. Apakah dengan melakukan reboisasi dan penutupan kawasan penghijauan yang dari sekarang diantisipasi oleh pihak Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Kuningan, maupun kabupaten/kota di sekitarnya,” imbuhnya.

Ia berharap, kebakaran hutan dan ancaman kekeringan menjadi momentum untuk memperkuat upaya pelestarian lingkungan secara berkelanjutan.

Perlindungan kawasan Gunung Ciremai dinilai penting, bukan hanya untuk menjaga ekosistem, tetapi juga memastikan ketersediaan sumber air bersih bagi masyarakat pada masa mendatang. (Ghofar)