BTNGC Kuningan Siapkan Pemetaan Water Bombing
KUNINGAN, (FC).- Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) menyiapkan pemetaan untuk mendukung rencana pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menggunakan helikopter atau water bombing.
Langkah ini disiapkan menyusul sulitnya menjangkau titik api di kawasan Gunung Ciremai akibat medan curam dan terbatasnya sumber air.
Kepala BTNGC Toni Anwar mengatakan, hingga Kamis (22/10) pukul 16.00 WIB, masih terpantau tiga titik api yang mengarah ke utara.
Sementara itu, luas kawasan yang terdampak kebakaran belum dapat dipastikan karena pemetaan menggunakan drone belum dilakukan.
“Untuk water bombing, besok akan dilakukan pemetaan oleh Lanud dan Mabes TNI, dengan titik pengambilan air di Cipariuk,” ujar Toni saat diwawancarai, Kamis (22/10).
Menurut Toni, salah satu kendala utama dalam penanganan kebakaran adalah akses menuju lokasi yang sulit. Petugas harus berjalan kaki lebih dari satu kilometer untuk mencapai titik tertentu. Selain itu, ketersediaan air di sekitar lokasi juga terbatas sehingga pemadaman masih mengandalkan cara manual.
“Masalahnya salah satunya akses. Kondisi jalan cukup sulit dan harus berjalan kaki lagi sekitar satu kilometer lebih ke atas. Ketersediaan air juga terbatas, sehingga kita harus melakukan pemadaman secara manual,” jelasnya.
Titik kebakaran berada di kawasan dengan medan curam dan berbatu, di antaranya sekitar Cipariuk dan Karang Dinding. Kondisi tersebut membuat proses penanganan membutuhkan koordinasi dan dukungan berbagai unsur.
Toni menyebut, penanganan karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Sejumlah unsur dilibatkan, mulai dari TNI, Polri hingga masyarakat yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Api (MPA).
Dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga diharapkan memperkuat upaya pengendalian kebakaran di kawasan konservasi tersebut.
Untuk meningkatkan efektivitas penanganan, posko khusus karhutla di wilayah kehutanan Pasawahan direncanakan dibentuk pada Jumat Pagi (23/10). Posko tersebut akan menjadi pusat koordinasi seluruh unsur yang terlibat agar langkah pemadaman lebih terarah.
Terkait luas area yang terbakar, Toni menegaskan bahwa pihaknya belum memiliki data pasti. Pemetaan menggunakan drone diperlukan untuk mengetahui cakupan kawasan terdampak secara lebih akurat.
Ia menjelaskan, area yang terbakar didominasi semak belukar dengan kondisi tanah berbatu dan medan yang curam.
Mengenai dampak terhadap satwa liar, Toni berpandangan bahwa satwa besar seperti macan tutul dan surili tidak berada langsung di habitat semak belukar yang terdampak. Meski demikian, kondisi kawasan tetap perlu dipantau.
Sementara itu, penyebab kebakaran hingga kini belum diketahui. Toni mengatakan, pihaknya belum dapat memastikan apakah kebakaran dipicu faktor alam, kelalaian, atau kesengajaan.
“Kami belum tahu motifnya, apakah karena faktor alam, kesengajaan, atau ketidaksengajaan. Nanti mungkin dilakukan penyidikan dengan melibatkan aparat yang memang berwenang,” katanya.
Toni berharap kejadian tersebut menjadi pembelajaran bagi semua pihak agar lebih menjaga kawasan konservasi. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan kebakaran di Taman Nasional Gunung Ciremai. (Angga)


Tinggalkan Balasan