KAB.CIREBON, (FC).- Selain membuat kerusakan bangunan struktur rumah dan lantai milik warga, diduga pembangunan proyek strategis nasional pipa transmisi gas bumi Cirebon – Semarang juga sebabkan air sumur milik ketujuh warga yang tinggal di pinggiran jalan pantura Tegalgubug bercampur lumpur, sehingga dengan terpaksa warga harus membeli air bersih untuk kebutuhan sehari – hari.
Hal tersebut diungkapkan oleh Carmin Ketua RT 05 Dusun 4, Desa Tegalgubug, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon.
Kepada awak media Carmin menyampaikan, dampak dari aktivitas pengerjaan proyek tersebut selain menimbulkan kebisingan juga membuat air sumur miliknya menjadi penuh lumpur, ia mengaku meskipun proyek yang tak jauh dari rumahnya itu berjalan sudah hampir dua minggu, namun dampak kerusakan ini baru terjadi pada Rabu (25/6/2025) malam. Penyebab pastinya, lanjut Carmin masih belum tahu karena faktor apa.
“Ada tujuh rumah milik warga satu di antaranya mengalami kerusakan (lantai pecah,-red) dan air sumurnya penuh lumpur tidak bisa digunakan sama sekali termasuk sumur di rumah saya,” ujar Carmin, Kamis.(26/6/2025).
Warga lain, Ilmiyah mengatakan, kejadian kerusakan itu diawali dengan suara getaran yang diduga dari aktivitas galian proyek pipa transmisi gas sekitar pukul 20.34 Wib, Rabu (25/6/2025) malam, dari getaran tersebut menyebabkan sejumlah lantai di ruang tengah dan kamar tidur mengalami kerusakan cukup parah kemudian disusul datangnya resapan air disertai lumpur warna coklat.
“Proyek galian jalur pipa gas tersebut menyebabkan munculnya retakan pada struktur bangunan dan lantai hingga banjir lumpur. Saya dan keluarga sangat terganggu. Malam itu air bercampur lumpur masuk ke dalam rumah. Ini jelas merusak dan membuat kami trauma,” ujarnya.
Ilmiyah mengaku takut dan kecewa terhadap penanganan dari pihak proyek. Ia berharap ada tanggung jawab dan kepastian penyelesaian dari pihak terkait, terutama mengenai kerusakan dan kompensasi yang dialaminya.
“Saya sempat berharap surat perjanjian ganti rugi datang dari pihak mereka, tapi justru saya yang diminta membuat sendiri oleh bagian humasnya. Ini sangat tidak profesional terlebih ganti rugi tersebut akan dibayarkan nanti kalo proyek sudah selesai,” katanya. (Johan)














































































































Discussion about this post