KAB.CIREBON, (FC).- Lima dapur hasil pembentukan Satuan Pelayanan Pemenuhan (SPPG) dalam program makan bergizi gratis (MBG) jalur Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Kabupaten Cirebon siap beroperasi.
Hal tersebut diungkapkan oleh Person in Charge (PIC) Program MBG Kadin Kabupaten Cirebon, Surnita Sandi Winata. Ia mengatakan, dari total target 20 dapur, sudah lima yang siap beroperasi dan memulai program MBG untuk sekolah di Kabupaten Cirebon,
“Sudah ada dua dapur yang siap beroperasi untuk MBG di Desa Gegesik Kidul, Kecamatan Gegesik dan Desa Arjawinangun, Kecamatan Arjawinangun dan tiga dapur lainnya di Kelurahan Watubelah, Kecamatan Sumber, Desa Kepuh, Kecamatan Palimanan, dan Desa Grogol, Kecamatan Gunungjati masih dalam tahap persiapan sarana dan prasarana” kata Sandi, Jumat (11/7).
Meski demikian, lanjut Sandi untuk ketiga dapur ini ditargetkan mulai beroperasi paling lambat Agustus yang sudah final, untuk beroperasi baru di dua kecamatan, yakni Desa Gegesik Kidul dan Desa Arjawinangun. Dan paket MBG mulai didistribusikan, Senin 14 Juli 2025 bertepatan dengan tahun ajaran baru sekolah.
“Dari total 20 titik SPPG, sebanyak 15 titik lainnya kini tengah menuntaskan proses administrasi dan penentuan lokasi. Setelah itu akan dilakukan survei oleh Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memastikan kelayakan operasional,” ujarnya
Sandi menjelaskan, anggaran MBG yang didapat dari BGN yakni sebesar Rp500 juta per dapur, pada bulan ini sudah cair. Mekanismenya pun berbeda dengan sebelumnya yang mengharuskan sistem talangan dan klaim. Kini, BGN langsung menyalurkan dana di muka, yang kemudian digunakan berdasarkan kebutuhan rill setiap dapur.
“Setiap kepala dapur mengajukan kebutuhan operasional untuk 10 hari ke depan. Besar kecilnya dana disesuaikan dengan jumlah penerima manfaat (jumlah siswa), pembayarannya pun melalui virtual account agar lebih transparan,” jelasnya.
Menurutnya untuk dapur MBG di Arjawinangun, kebutuhan masak mencapai sekitar 3.800 porsi per hari. Penerima manfaatnya terdiri dari balita, ibu menyusui, hingga pelajar tingkat TK, SD, SMP, hingga SMA.
Ia menegaskan, dana Rp500 juta per dapur tidak sepenuhnya langsung dihabiskan. Jika ada sisa, maka akan dikembalikan secara otomatis.
“Pencairannya pun berbasis nota penjualan harian, sehingga aman dan meminimalisir penyalahgunaan. Sistem virtual account ini membuat dana tidak bisa ditarik sekaligus, setiap dapur akan melayani sekolah-sekolah yang berada dalam radius maksimal 6 kilometer atau dengan jarak tempuh waktu maksimal 30 menit,” jelasnya.
Keberadaan dapur MBG, lanjut Sandi akan membawa dampak positif bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) sekitarnya.
“Ini adalah peluang emas, apalagi di tengah kondisi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja. Maka, Program MBG mendorong pergerakan ekonomi masyarakat Kabupaten Cirebon,” tuturnya
Tak hanya soal ekonomi, program ini juga dinilai mampu menjadi solusi nyata dalam mengatasi masalah kemiskinan dan stunting di daerah.
“Kami optimis 20 dapur bisa terealisasi sesuai target dari waktu yang telah ditentukan dan ini sejalan dengan program prioritas pemerintah,” pungkasnya. (Johan)














































































































Discussion about this post