KUNINGAN, (FC).- Suasana haru menyelimuti ruang kelas 6 SDN 2 Bandorasawetan, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Senin (10/8).

Sejumlah siswa berani membuka cerita tentang pengalaman menghadapi perundungan atau bullying dalam kegiatan edukasi yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Al-Ihya (UNISA) Kuningan Kelompok 01 Desa Bandorasa Wetan.

Kegiatan bertajuk edukasi anti-bullying tersebut tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi dikemas dengan pendekatan interaktif dan humanis. Mahasiswa mengajak siswa memahami dampak perundungan sekaligus membangun empati terhadap korban.

Kegiatan diawali dengan pemutaran audio visual reflektif tentang dampak psikologis bullying. Para siswa kemudian diajak mengikuti simulasi agar mampu memahami perasaan seseorang yang menjadi korban perundungan.

Suasana kelas berubah ketika mahasiswa memberikan kesempatan kepada siswa untuk menceritakan pengalaman yang pernah dialami.

Salah seorang siswa bernama Dika menjadi yang pertama berani berbagi cerita. Ia mengungkapkan pengalaman ketika pernah mengalami perundungan di luar lingkungan sekolah.

Keberanian Dika kemudian mendorong siswa lain untuk ikut terbuka. Momen semakin mengharukan ketika Kholifah atau yang akrab disapa Ipeh memberikan penguatan kepada para siswa mengenai pentingnya mengekspresikan perasaan.

“Laki-laki juga pantas menangis, dan laki-laki memiliki hak yang sama untuk bercerita serta mengekspresikan perasaannya,” ujar Ipeh.

Pesan tersebut membuat suasana kelas menjadi lebih terbuka. Para siswa mulai saling menguatkan dan merangkul satu sama lain hingga tercipta ruang aman atau safe space untuk berbagi tanpa rasa takut.

Kepala SDN 2 Bandorasa Wetan, Beni, mengapresiasi kegiatan yang dilakukan mahasiswa KKN UNISA tersebut. Menurutnya, edukasi anti-bullying harus disampaikan dengan pendekatan yang mampu menyentuh karakter dan membangun empati siswa.

“Kami sangat mendukung penuh dan mengapresiasi kegiatan edukasi yang diusung oleh adik-adik mahasiswa KKN. Pendekatan yang menyentuh hati ini tidak hanya memberikan pemahaman secara teori, tetapi membangun karakter, empati dan rasa persaudaraan yang kuat di antara anak-anak kami,” katanya.

Beni berharap kegiatan tersebut memberikan dampak jangka panjang dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi seluruh siswa.

Sementara itu, mahasiswa KKN UNISA berharap kesadaran mengenai bahaya bullying dapat terus tumbuh meski kegiatan telah selesai. Siswa didorong untuk berani berbicara ketika mengalami perundungan serta tidak tinggal diam saat melihat temannya menjadi korban.

Melalui edukasi tersebut, SDN 2 Bandorasa Wetan diharapkan semakin mampu membangun budaya sekolah yang ramah, penuh kepedulian, dan bebas dari segala bentuk perundungan. (Angga)