KOTA CIREBON, (FC).- Memasuki usia 48 tahun, GM FKPPI Kota Cirebon melihat tantangan generasi muda semakin beragam. Perubahan teknologi, persoalan ekonomi hingga isu ideologi menjadi tantangan yang perlu dihadapi dengan keterlibatan nyata.

Ketua GM FKPPI Kota Cirebon, Dany Jaelani mengatakan, usia 48 tahun bukan sekadar catatan perjalanan organisasi. Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk mengevaluasi sekaligus melihat peran yang bisa dilakukan generasi muda ke depan.

“Memasuki usia ini, masa lalu harus menjadi pembelajaran sekaligus pijakan untuk melahirkan kontribusi yang lebih nyata,” kata Dany, Rabu (16/9).

Menurut Dany, GM FKPPI telah melewati berbagai perubahan zaman, dari Orde Baru, Reformasi hingga era digital. Kondisi tersebut membuat generasi muda harus mampu menyesuaikan diri dengan persoalan yang terus berkembang.

“Persoalan yang dihadapi sekarang tidak hanya konflik fisik. Ada persoalan ideologi, data, ekonomi sampai kemiskinan,” ujarnya.

Karena itu, Dany meminta kader muda tidak hanya menjadi penonton ketika menghadapi berbagai persoalan di lingkungan sekitarnya. Mereka perlu memiliki keberanian untuk mengambil peran dan ikut mencari solusi.

“Generasi muda GM FKPPI jangan hanya menjadi penonton. Kita harus mengambil peran sebagai solusioner,” tegasnya.

Ia mengatakan semangat tersebut menjadi bagian dari gagasan GM FKPPI dalam menyambut Indonesia Emas 2045.

Menurutnya, generasi muda perlu mempersiapkan diri agar mampu memberikan kontribusi sesuai tantangan yang dihadapi.

“Dari Generasi Muda FKPPI untuk Indonesia Emas 2045. Semangat itu harus diterjemahkan dalam tindakan, bukan hanya menjadi slogan,” katanya.

Dany juga menilai pengalaman generasi senior tetap penting bagi keberlanjutan organisasi. Sementara kader muda dapat membawa gagasan baru sekaligus memanfaatkan teknologi yang berkembang pesat.

“Generasi senior punya pengalaman dan sejarah perjuangan. Generasi muda punya gagasan baru dan teknologi. Dua hal itu harus bertemu,” ucapnya.

Kolaborasi lintas generasi tersebut, lanjut Dany, dapat diarahkan pada kegiatan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Pengabdian tidak harus selalu dikemas dalam kegiatan besar, tetapi bisa dimulai dari persoalan yang ada di lingkungan sekitar.

“Pengabdian tidak cukup lewat slogan atau kegiatan seremonial. Harus ada aksi yang manfaatnya bisa dirasakan langsung,” tuturnya.

Selain persoalan sosial, Dany menyebut generasi muda juga memiliki peran dalam menjaga budaya. Perkembangan teknologi dinilai perlu berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan identitas dan nilai budaya bangsa.

“Budaya adalah bagian dari jati diri bangsa. Karena itu, generasi muda juga punya tanggung jawab untuk menjaganya,” ujarnya.

Bagi Dany, bertambahnya usia organisasi harus diikuti dengan kontribusi yang semakin nyata. Ukuran keberadaan GM FKPPI Kota Cirebon, menurutnya, bukan hanya dari lamanya organisasi berdiri, tetapi dari manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat. (Agus)