KAB. CIREBON, (FC).- Musim kemarau panjang mulai berdampak terhadap sektor pertanian di Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon.

Embung Geyongan di Desa Geyongan yang selama ini menjadi sumber utama pengairan sawah petani kini mengalami kekeringan, sehingga puluhan hektare lahan pertanian terancam kekurangan pasokan air.

Kondisi tersebut membuat sekitar 60 hingga 70 hektare sawah milik petani berada dalam ancaman krisis air.

Embung yang memiliki luas sekitar 4,5 hektare itu sebelumnya mampu menampung dan menyuplai kebutuhan irigasi bagi lahan pertanian warga, namun kini debit air terus menyusut hingga nyaris tak tersisa.

Petugas jaga Embung Geyongan, Mansur, mengatakan kekeringan terjadi akibat berkurangnya pasokan air dari daerah hulu. Air yang mengalir ke embung berasal dari Sungai Walahar, Kabupaten Majalengka, dengan jarak sekitar 18 kilometer.

“Debit air dari hulu terus berkurang akibat musim kemarau. Akibatnya, Embung Geyongan yang memiliki kapasitas tampung sekitar 70.400 meter kubik kini mengering,” ujar Mansur, Rabu (5/8).

Menurutnya, saat kondisi normal terutama musim penghujan, embung tersebut mampu mencukupi kebutuhan air bagi sekitar 60 hektare sawah di Desa Geyongan. Namun sejak memasuki musim kemarau, volume air terus mengalami penurunan.

“Pada April dan Mei aliran air masih masuk dengan normal. Tetapi mulai Juni debit mulai turun hingga akhirnya embung mengalami kekeringan,” katanya.

Mansur menjelaskan, kondisi tersebut membuat petani harus mencari alternatif agar tanaman tetap mendapatkan pasokan air.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah memanfaatkan air dari Bendungan Rentang melalui sistem pompa.

Meski membantu memenuhi kebutuhan sementara, penggunaan pompa air dinilai belum sepenuhnya mampu menggantikan fungsi Embung Geyongan.

Selain kapasitas yang terbatas, petani juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk operasional.

“Petani masih bisa mendapatkan air dari Bendungan Rentang, tetapi tentu tidak seperti saat embung masih tersedia air. Kalau kemarau terus berlanjut, kekhawatiran terhadap hasil panen bisa terjadi,” ungkapnya.

Kekeringan Embung Geyongan menjadi perhatian bagi petani setempat karena keberadaan embung tersebut memiliki peran vital dalam menjaga produktivitas pertanian, khususnya saat memasuki musim kemarau.

Petani berharap ada langkah penanganan dari pihak terkait agar ketersediaan air irigasi tetap terjaga dan dampak musim kemarau terhadap lahan pertanian dapat diminimalisir. (Johan)