Embung Bocor Tiga Tahun, 70 Hektare Sawah Geyongan Krisis Air
KAB. CIREBON, (FC).- Harapan petani Desa Geyongan, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, untuk mendapatkan pasokan air dari embung desa kembali pupus.
Embung Geyongan yang menjadi tumpuan pengairan puluhan hektare sawah mengalami kebocoran sejak tiga tahun terakhir dan hingga kini belum mendapatkan perbaikan.
Akibat kondisi tersebut, fungsi embung sebagai sumber irigasi tidak lagi maksimal, terutama saat musim tanam kedua.
Petani pun terpaksa mencari sumber air alternatif dengan menggunakan pompa untuk menyelamatkan tanaman padi dari ancaman kekeringan.
Ketua Forum Petani Desa Geyongan, Mashudi, mengatakan keberadaan Embung Geyongan saat ini belum mampu memberikan manfaat optimal bagi petani karena air yang ditampung terus berkurang akibat kebocoran.
“Sudah tiga tahun ini kami punya embung, tetapi rasanya seperti tidak punya embung. Petani sangat kewalahan mengairi sawah sehingga harus menggunakan pompa,” ujar Mashudi, Rabu (5/8).
Menurutnya, kondisi tersebut semakin memperberat beban petani yang sebelumnya juga menghadapi serangan hama tikus dan penyakit tanaman.
Saat musim kemarau, keterbatasan air menjadi persoalan utama karena embung yang seharusnya menjadi cadangan air justru tidak mampu menampung secara maksimal.
Mashudi menjelaskan, saat awal dibangun, Embung Geyongan memiliki kedalaman sekitar 4,5 meter dan mampu menampung air dalam jumlah besar.
Bahkan, dalam kondisi normal, pasokan air dari embung dapat membantu mengairi sekitar tiga hektare sawah dalam waktu 24 jam.
“Kalau embung tidak bocor, tentu sangat membantu petani. Sekarang banyak air yang terbuang sehingga petani kesulitan mendapatkan pasokan,” katanya.
Dampak kekurangan air tersebut, lanjut Mashudi, dirasakan oleh petani dengan luasan lahan sekitar 65 hingga 70 hektare.
Dengan produktivitas rata-rata lima ton gabah per hektare, ancaman gagal panen maupun penurunan hasil produksi menjadi kekhawatiran petani.
“Kalau dihitung, kehilangan hasilnya bisa mencapai ratusan ton. Padahal kualitas padi di sini cukup baik dan biasanya petani bisa panen dua sampai tiga kali dalam setahun,” ungkapnya.
Untuk menjaga tanaman tetap mendapatkan air, petani kini harus memanfaatkan pompa dari saluran irigasi Rentang yang berjarak sekitar 1,2 hingga 1,5 kilometer dari area persawahan.
Namun upaya tersebut membutuhkan biaya tambahan yang cukup besar. Dalam sehari semalam, petani harus mengoperasikan dua unit pompa yang menghabiskan sekitar 10 tabung gas.
“Modal awal yang harus dikeluarkan petani bisa mencapai Rp15 juta untuk kebutuhan pompa dan operasionalnya,” jelas Mashudi.
Ia menuturkan, persoalan kebocoran Embung Geyongan sebenarnya sudah beberapa kali disampaikan kepada pihak terkait.
Namun hingga kini, belum ada perbaikan yang dilakukan sehingga petani masih harus menghadapi persoalan yang sama setiap musim kemarau.
Para petani berharap pemerintah segera turun tangan memperbaiki infrastruktur embung tersebut agar kembali berfungsi sebagai sumber irigasi.
Perbaikan embung dinilai menjadi solusi jangka panjang untuk menjaga produktivitas pertanian dan mencegah ancaman kekeringan yang terus berulang.
“Harapan kami embung segera diperbaiki. Jangan sampai petani terus mengalami kesulitan air setiap musim tanam,” pungkasnya. (Johan)


Tinggalkan Balasan