Diserbu Tikus Bertahun-tahun, Petani Palimanan Merugi: Biaya Membengkak, Panen Terjun Bebas
KAB.CIREBON, (FC).- Serangan hama tikus yang berlangsung dalam tiga tahun terakhir menjadi ancaman serius bagi petani di Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon.
Selain menurunkan hasil panen, kondisi tersebut membuat biaya produksi meningkat akibat kerusakan tanaman padi.
Ketua Gapoktan Makmur Jaya Desa Tegalkarang, Rojai, mengatakan serangan tikus berdampak langsung terhadap pendapatan petani.
Sebagian tanaman padi rusak sehingga hasil panen berkurang, sementara biaya perawatan justru bertambah.
“Pendapatan jelas berkurang karena sebagian padi dimakan tikus. Biaya produksi malah bertambah. Pemupukan biasanya dua sampai tiga kali, sekarang harus mengulang pemupukan di bagian yang rusak supaya pertumbuhannya bisa menyamai tanaman lain,” ujarnya, Sabtu (28/2).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat petani terhimpit. Di satu sisi pengeluaran meningkat, di sisi lain produksi padi menurun karena serangan hama yang belum terkendali.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk menekan populasi tikus, mulai dari pengumpanan racun, penembakan, pemasangan aliran listrik di area persawahan, hingga gropyokan sebelum masa tanam.
Namun, upaya tersebut dinilai belum mampu menekan populasi secara signifikan.
“Semua cara sudah ditempuh. Gropyokan sebelum masa tanam juga dilakukan. Tapi kalau sudah ada tanaman, tikus masuk ke sawah dan sulit dikejar,” katanya.
Saat ini, metode pengumpanan racun menjadi pilihan yang paling sering dilakukan karena dinilai lebih efektif ketika tanaman sudah tumbuh. Namun, pengendalian dinilai akan berhasil jika dilakukan secara serentak.
“Kalau tidak bareng-bareng, tikus pindah ke lahan lain. Jadi harus serempak semua tahapan pengendalian dilakukan,” jelas Rojai.
Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Palimanan, Eeb, menyebut serangan tikus di wilayah Palimanan tergolong endemik di sejumlah desa, seperti Pegagan, Cangkuang, Tegalkarang, dan Lungbenda.
Menurutnya, pemerintah bersama petani telah melakukan gerakan pengendalian (gerdal) melalui gropyokan, pengemposan sarang, hingga pengumpanan racun.
Selain itu, pengendalian alami juga dilakukan dengan membangun rumah burung hantu (rubuha) sebagai upaya menghadirkan predator alami tikus di area persawahan.
“Mudah-mudahan dengan upaya bersama ini populasi bisa berkurang sehingga produksi padi kembali meningkat,” ujarnya.
Meski demikian, di lapangan masih ditemukan petani yang menggunakan aliran listrik untuk menekan populasi tikus. Padahal metode tersebut berbahaya dan dilarang karena berisiko mengancam keselamatan.
“Listrik tidak dianjurkan dan ada aturan yang melarang karena membahayakan, baik petani sendiri maupun orang lain. Tapi karena kerugian besar, sebagian petani masih nekat,” kata Eeb.
Ia menegaskan, pengendalian hama tikus harus dilakukan secara terpadu dan serentak agar populasi tidak berpindah ke lahan lain. “Kalau dilakukan bersama-sama, dampaknya jauh lebih efektif. Kunci utamanya kekompakan petani,” pungkasnya. (Johan)


Tinggalkan Balasan