Limbah Sapi Mengancam Saat Hujan, Cigugur Jajaki Budidaya Maggot
KUNINGAN, (FC).- Pemerintah Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, mulai menjajaki alternatif pengolahan kotoran sapi untuk mengatasi persoalan limbah peternakan yang kerap menjadi masalah saat musim hujan. Salah satu gagasan yang disiapkan adalah memadukan pengolahan kotoran hewan (kohe) dengan budidaya maggot.
Camat Cigugur, Yono Rahmansyah, mengatakan penanganan limbah sapi membutuhkan keterlibatan pemerintah, peternak, koperasi, dan masyarakat. Upaya tersebut penting untuk mencegah limbah masuk ke saluran air permukiman dan mengganggu lingkungan.
“Langkah-langkah sudah kami upayakan bersama-sama dengan komponen lain, termasuk masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan kebersihan pada minggu-minggu tertentu yang melibatkan peternak dan koperasi, sehingga limbah tidak masuk ke saluran-saluran masyarakat,” ujar Yono saat ditemui, Rabu (28/10).
Meski kegiatan kebersihan telah dilakukan, Yono mengakui penanganan limbah peternakan di wilayahnya belum berjalan maksimal. Sejumlah kekurangan masih perlu dibenahi agar persoalan serupa tidak terus berulang, terutama ketika curah hujan meningkat.
Karena itu, pemerintah kecamatan mulai mencari solusi yang tidak sebatas membersihkan lingkungan, tetapi juga mengupayakan pemanfaatan limbah organik agar memiliki nilai guna.
Salah satu alternatif yang tengah dijajaki adalah mengolah kotoran sapi dengan melibatkan budidaya maggot. Gagasan tersebut akan diinisiasi agar berpeluang diterapkan di wilayah Kecamatan Cigugur.
“Kami coba inisiasi sehingga itu bisa diterapkan di wilayah Kecamatan Cigugur. Kami memang masih terus berproses dan melangkah,” katanya.
Yono berharap, upaya tersebut dapat menjadi bagian dari solusi jangka panjang dalam pengelolaan limbah peternakan. Selain menjaga kebersihan lingkungan, penanganan yang lebih terarah diharapkan mampu mengurangi risiko pencemaran saluran air dan kawasan permukiman saat musim hujan.
Ia menegaskan, keberhasilan penanganan limbah sapi membutuhkan komitmen bersama dan langkah berkelanjutan. Pemerintah kecamatan pun mendorong peternak, koperasi, serta masyarakat untuk terlibat aktif dalam menjaga lingkungan. (Angga)


Tinggalkan Balasan