Ciptakan Generasi Peduli Sampah Sejak Dini, KKM UMC Bentuk Duta Cilik Peduli Lingkungan di SDN Gunungwangi
MAJALENGKA, (FC).– Menanamkan kepedulian terhadap lingkungan tidak harus menunggu seseorang beranjak dewasa. Dari ruang kelas sekolah dasar, kebiasaan memilah sampah, menjaga kebersihan, hingga memanfaatkan barang bekas dapat mulai diperkenalkan sebagai bagian dari pembentukan karakter anak.
Hal itulah yang dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) melalui program pembentukan Duta Cilik Peduli Lingkungan di SDN Gunungwangi, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka.
Program tersebut dirancang untuk memperkenalkan pengelolaan sampah sekaligus mendorong siswa menjadi penggerak kepedulian lingkungan di sekolah. Rangkaian kegiatan diawali dengan edukasi kepada siswa kelas IV, V, dan VI mengenai pengenalan jenis-jenis sampah, pemilahan sampah organik dan anorganik, serta penerapan prinsip 3R, yakni Reduce, Reuse, dan Recycle.
Agar materi lebih mudah dipahami siswa, mahasiswa KKM menyampaikannya melalui animasi, permainan, kuis, serta kegiatan interaktif di dalam kelas. Pendekatan tersebut membuat pembelajaran lingkungan tidak berhenti pada penyampaian teori, tetapi dikemas dengan cara yang lebih dekat dengan dunia anak. Melalui model pembelajaran Problem-Based Learning (PBL) para siswa dibimbing secara berkelompok untuk belajar pemilahan dan daur ulang sampah melalui proses pemecahan masalah nyata yang kompleks secara kolaboratif.
Setelah mendapatkan pembekalan, siswa kemudian dipilih menjadi bagian dari Duta Cilik Peduli Lingkungan. Sebanyak 10 siswa dari masing-masing kelas IV, V, dan VI dipilih berdasarkan keaktifan, partisipasi, serta kepedulian mereka selama mengikuti kegiatan. Dengan demikian, terdapat 30 siswa yang menjadi perwakilan Duta Cilik Peduli Lingkungan SDN Gunungwangi.
Para duta cilik tersebut kemudian mendapatkan pembinaan, pelatihan, serta diarahkan untuk menjadi contoh sekaligus penggerak bagi teman-temannya dalam menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Konsep tersebut memang menjadi bagian utama program, yakni membentuk siswa terpilih sebagai teladan dan agen perubahan lingkungan di sekolah.
Tidak berhenti pada edukasi pemilahan sampah, para Duta Cilik juga diajak melakukan aksi nyata. Mereka terlibat dalam kegiatan pengumpulan dan pemilahan sampah di lingkungan sekolah serta dikenalkan pada pemanfaatan kembali sampah anorganik. Kegiatan tersebut menjadi pengalaman langsung bagi siswa untuk memahami bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak berguna masih dapat dimanfaatkan.
Rangkaian edukasi kemudian berlanjut pada pengenalan Hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) dengan memanfaatkan botol plastik bekas. Para Duta Cilik didampingi mahasiswa dalam menyiapkan media tanam hingga melakukan penanaman sayuran.
Botol plastik yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah dimanfaatkan kembali sebagai bagian dari media budidaya. Hasil hidroponik tersebut kemudian ditempatkan di lingkungan sekolah dan diintegrasikan dengan konsep Eco Garden, sehingga kawasan sekolah tidak hanya menjadi lebih hijau, tetapi juga dapat menjadi ruang belajar bagi siswa mengenai lingkungan dan ketahanan pangan.
Eco Garden dirancang oleh mahsasiswa KKM sebagai titik pembelajaran nyata bagi siswa. Melalui keterlibatan langsung dalam pembuatan dan perawatannya, siswa diharapkan dapat memahami hubungan antara pemanfaatan sampah, pelestarian lingkungan, serta menumbuhkan minat budidaya sayuran sejak dini.
Kepala SDN Gunungwangi, Apang Sapari,S.Pd.I, mengapresiasi program yang diberikan mahasiswa KKM UMC tersebut. Menurutnya, pembentukan Duta Cilik dapat menjadi awal bagi siswa untuk mengajak teman-temannya menjaga lingkungan sekolah.
“Duta cilik sudah dibentuk dan dibina. Semoga program yang disajikan bisa memberikan sebuah pembelajaran buat siswa-siswi. Sehingga hasil dari program ini duta cilik bisa mengajak teman-temannya melestarikan lingkungan, termasuk lingkungan sekolah SDN Gunungwangi,” ujar Apang.
Ia juga menilai keberadaan Eco Garden dapat memberikan pengalaman baru bagi siswa dalam memahami pentingnya tanaman dan kebersihan lingkungan.
“Eco Garden sangat bagus untuk pembelajaran. Memberikan motivasi dan hal baru tentang kebersihan lingkungan. Ini namanya paru-paru dunia, tanaman hijau bisa memberikan warna baru, kesehatan baru dan kebersihan baru,” jelasnya.
Apang berharap para Duta Cilik tidak hanya menjalankan perannya selama program KKM berlangsung, tetapi mampu menerapkan kebiasaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari sekolah kemudian diteruskan ke lingkungan keluarga. Ia berharap para siswa dapat menjaga tanaman Eco Garden, mengelola sampah dengan lebih baik, serta mengajak teman-temannya melakukan hal serupa.
Harapan keberlanjutan juga disampaikan Endun Saripudin, S.Pd.I, selaku fasilitator sekaligus pembina Duta Cilik di SDN Gunungwangi. Ia menilai program tersebut memberikan manfaat bagi siswa karena para duta cilik dapat menjadi perwakilan yang nantinya mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh kepada siswa lainnya.
“Program yang bagus sekali, program yang sangat membantu. Dengan adanya duta cilik dan perwakilan per kelas, bisa diimplementasikan ke anak-anak yang lain. Bisa jadi perwakilan, bisa berkembang,” ujar Endun.
Bagi mahasiswa KKM UMC, pembentukan Duta Cilik bukan sekadar kegiatan seremonial. Program tersebut ditempatkan sebagai bagian dari upaya membangun keberlanjutan gerakan peduli lingkungan melalui generasi muda.
Melalui edukasi di kelas, pemilahan sampah, pengenalan 3R, pemanfaatan botol plastik menjadi media hidroponik, hingga perawatan Eco Garden, siswa mendapatkan pengalaman bahwa menjaga lingkungan dapat dilakukan melalui tindakan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dengan terbentuknya Duta Cilik Peduli Lingkungan, sekolah kini memiliki perwakilan siswa yang diharapkan dapat menjadi penggerak kebiasaan positif di lingkungan sekolah. Dari mereka, pesan tentang pentingnya memilah sampah, menjaga kebersihan, dan merawat ruang hijau diharapkan dapat terus menyebar kepada siswa lainnya.
Program ini sekaligus menjadi upaya agar edukasi lingkungan tidak berhenti ketika masa pengabdian mahasiswa berakhir. Sebagaimana rancangan program KKM, keberlanjutan Duta Cilik diharapkan dapat menjadi bagian dari program sekolah, tapi dapat diteruskan kepada lingkungan pertemanan siswa, keluarga maupun masyarakat sekitar. (Agus)



Tinggalkan Balasan