PR Direksi PAM-TGN Kota Cirebon, 50 Persen Warga Belum Terlayani Air Bersih
KOTA CIREBON, (FC).- Wali Kota Cirebon Effendi Edo mengangkat Andri Satria sebagai Direktur Utama dan Agung Astija sebagai Direktur Umum Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Giri Nata (PAM-TGN) Kota Cirebon.
Keduanya resmi dilantik dalam prosesi yang berlangsung di Ruang Adipura Kencana, Balai Kota Cirebon, Jalan Siliwangi, Kota Cirebon, Senin (31/8).
Usai dilantik, Direktur Utama PAM-TGN Kota Cirebon Andri Satria langsung dihadapkan pada sejumlah pekerjaan rumah, terutama memperluas cakupan pelayanan air bersih bagi masyarakat Kota Cirebon.
Andri mengatakan, saat ini jumlah pelanggan PAM-TGN Kota Cirebon berada di kisaran 57.000 pelanggan. Dengan asumsi setiap pelanggan mewakili sekitar tiga orang, layanan perusahaan daerah tersebut diperkirakan telah menjangkau sekitar 150.000 hingga 160.000 warga Kota Cirebon.
Namun demikian, jumlah tersebut dinilai masih belum mencakup seluruh kebutuhan masyarakat. Menurut Andri, masih terdapat sekitar 40 hingga 50 persen masyarakat Kota Cirebon yang belum mendapatkan layanan air dari PAM-TGN.
“Banyak pekerjaan rumah kita. Kurang lebih sekarang masih ada sekitar 40 sampai 50 persen lagi yang belum kita layani di Kota Cirebon. Ini menjadi target yang diberikan Bapak Wali Kota untuk diselesaikan,” ujar Andri.
Ia menyebut target tersebut menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab besar yang harus dikerjakan bersama jajaran PAM-TGN. Terlebih, Wali Kota Cirebon Effendi Edo telah memberikan target agar persoalan cakupan pelayanan air bersih dapat dituntaskan.
Andri menegaskan, pihaknya akan berupaya untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap air bersih sekaligus memperbaiki kualitas pelayanan.
Menurutnya, persoalan yang dihadapi PAM-TGN tidak hanya berkaitan dengan perluasan jaringan. Masih terdapat sejumlah persoalan mendasar yang harus segera dibenahi agar peningkatan pelayanan dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Masih cukup banyak masyarakat Kota Cirebon yang belum mendapatkan akses air bersih. Masih cukup banyak juga masyarakat yang belum terlayani secara 24 jam. Itu menjadi target kita untuk diselesaikan secara perlahan-lahan, satu per satu,” tuturnya.
Dalam pemetaan awal yang dilakukan, Andri mengungkapkan sedikitnya terdapat tiga persoalan utama yang menjadi perhatian manajemen baru PAM-TGN.
Pertama, tingkat kehilangan air yang masih cukup tinggi. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan karena air yang diproduksi tidak seluruhnya dapat menjadi air yang terjual atau dimanfaatkan pelanggan.
Kedua, cakupan pelayanan yang masih relatif terbatas. Hal ini membuat sebagian masyarakat Kota Cirebon belum memperoleh akses jaringan air bersih dari PAM-TGN.
Ketiga, masih terdapat sejumlah wilayah yang belum memperoleh layanan air selama 24 jam.
“Pertama, kita mempunyai permasalahan dari sisi kehilangan air yang cukup tinggi. Kedua, cakupan layanan masih kecil. Ketiga, masih cukup banyak daerah yang belum mendapat layanan secara 24 jam,” jelasnya.
Untuk persoalan kebocoran dan kehilangan air, Andri menempatkannya sebagai salah satu target prioritas yang harus ditekan.
Menurut dia, pengurangan kehilangan air akan memberikan ruang bagi PAM-TGN untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada. Air yang sebelumnya hilang dapat dimanfaatkan untuk mendukung perluasan pelayanan kepada masyarakat.
“Itu menjadi salah satu target kita untuk kita kurangi. Sehingga nanti selisih air yang bisa kita dapatkan akan kita gunakan untuk mendapatkan perluasan pelayanan kepada masyarakat yang belum terlayani,” katanya.
Sebagai langkah awal setelah dilantik, Andri bersama Direktur Umum Agung Astija akan melakukan konsolidasi internal dan pemetaan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi PAM-TGN.
Konsolidasi tersebut akan menjadi dasar bagi manajemen baru untuk menentukan langkah prioritas, termasuk melihat kondisi jaringan, cakupan pelayanan, tingkat kehilangan air, hingga wilayah yang membutuhkan peningkatan layanan.
“Yang pertama, dalam satu bulan ke depan kita akan melakukan konsolidasi di internal, pemetaan kembali permasalahan-permasalahan utama, memastikan bahwa semua hal bisa kita dapatkan dan kita kumpulkan selama satu bulan ke depan,” ujarnya.
Menurut Andri, momentum tersebut juga bertepatan dengan proses penyusunan Rencana Kegiatan dan Anggaran Perusahaan (RKAP). Dalam tiga hingga empat bulan ke depan, PAM-TGN akan memasuki periode penting untuk menyusun rencana kerja perusahaan untuk tahun berikutnya.
Karena itu, hasil konsolidasi dan pemetaan persoalan akan menjadi salah satu pijakan dalam menentukan program yang akan dijalankan.
“Kebetulan, Alhamdulillah, kita berada pada periode tiga sampai empat bulan ke depan, yaitu proses pembuatan RKAP. Maka itu menjadi salah satu tolak ukur kita untuk merencanakan apa yang akan kita laksanakan di tahun depan,” pungkasnya. (Agus)



Tinggalkan Balasan