KOTA CIREBON (FC).- Musim kemarau tidak sepenuhnya menghentikan aktivitas pertanian di Kota Cirebon. Di tengah keterbatasan pasokan air, sejumlah petani masih mampu mempertahankan produktivitas sawah dengan memanfaatkan sumber air dari sungai melalui pompa.

Salah satu kawasan yang masih aktif ditanami berada di Blok Sirandu, Kelurahan Kalijaga. Dari lahan seluas 8,5 hektare, para petani tetap dapat menggarap sawah meski curah hujan rendah.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Cirebon, Elmi Masruroh mengatakan keberadaan sumber air menjadi faktor penting yang membuat lahan di kawasan tersebut tetap produktif saat musim kemarau.

“Sebagian besar jadi lahan nganggur, tapi ada yang masih bisa tanam. Itu pun yang berada di pinggir sungai besar di Kota Cirebon,” kata Elmi, Kamis (13/8).

Menurutnya, sawah di Blok Sirandu memiliki keuntungan karena berada berdekatan dengan aliran sungai. Air dari sungai kemudian dipompa menuju area persawahan untuk memenuhi kebutuhan pengairan tanaman.

Bahkan, dalam kondisi normal, lahan seluas 8,5 hektare tersebut mampu menghasilkan hingga tiga kali panen dalam setahun.

Pemanfaatan pompa air menjadi salah satu solusi yang dilakukan kelompok tani untuk menghadapi keterbatasan air selama musim kemarau. Pompa tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Pertanian yang diterima pada tahun sebelumnya dan masih digunakan hingga saat ini.

“Pompa air berasal dari bantuan Kementerian Pertanian pada tahun lalu. Masih digunakan kelompok tani saat musim kemarau seperti ini,” ujarnya.

Secara keseluruhan, Kementerian Pertanian telah menyalurkan delapan unit pompa air kepada 12 kelompok tani di Kota Cirebon. Peralatan tersebut dimanfaatkan untuk mengalirkan air dari sumber terdekat ke lahan pertanian.

Meski demikian, kondisi tersebut belum dapat dirasakan seluruh petani. Sebagian besar lahan pertanian di Kota Cirebon masih mengandalkan hujan sebagai sumber utama pengairan. Ketika musim kemarau berlangsung, lahan yang tidak memiliki akses terhadap sumber air terpaksa tidak ditanami.

Dari total sekitar 113 hektare lahan pertanian di Kota Cirebon, pemerintah daerah telah menetapkan Lahan Baku Sawah (LBS) seluas 48 hektare. Selain itu, terdapat usulan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) seluas 37 hektare.

LBS merupakan lahan pertanian basah atau beririgasi yang secara nyata digunakan untuk kegiatan budidaya tanaman pangan, termasuk padi. Sementara LP2B merupakan lahan pertanian yang ditetapkan untuk dipertahankan secara berkelanjutan guna mendukung ketahanan pangan.

Kondisi lahan pertanian saat kemarau tersebut menjadi perhatian DKP3 Kota Cirebon. Pemanfaatan sumber air alternatif melalui pompa menjadi salah satu langkah untuk mempertahankan produktivitas lahan yang masih memiliki akses terhadap sumber air.

Dengan dukungan sarana pengairan, pemerintah berharap lahan yang memiliki potensi tetap dapat dimanfaatkan secara optimal, sekaligus menjaga keberlangsungan produksi pangan di tengah perubahan kondisi cuaca. (Agus)