KOTA CIREBON, (FC).- Musim kemarau tahun ini menimbulkan berbagai macam bencana, seperti kebakaran rumah dan lahan. Demikian juga di sektor pertanian, mengeringnya sejumlah sumber air membuat areal sawah kekurangan distribusi air dan bisa menimbulkan ancaman gagal panen.

Namun hal ini terbantahkan, Perum Bulog Cabang Cirebon mengonfirmasi ketersediaan beras dalam kondisi yang aman.

Masyarakat Cirebon dan sekitarnya tak perlu panik, sebab Bulog Cabang Cirebon memastikan saat ini persediaan beras mencapai 203.000 ton.

Kepala Cabang Bulog Cirebon, Imam Mahdi menyampaikan, ketersediaan beras sejumlah itu bisa mencukupi kebutuhan masyarakat hingga setelah Lebaran Idulfitri tahun depan. Dengan asumsi kebutuhan rata-rata 3.000-4.000 ton per bulan.

“Walaupun kita mengalami musim El Nino Godzilla, stok (beras) kita sangat aman,” ungkap Imam, Selasa (14/9).

Meski demikian, Imam tak menampik, kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah di Cirebon membuat lahan pertanian gagal panen. Kondisi itu berpotensi menekan pasokan gabah di pasaran. Saat ini harga gabah di tingkat petani senilai sekitar Rp8.000 per kilogram.

“Di beberapa tempat mengalami gagal panen. Suplainya sedikit karena terpengaruhi oleh El Nino, sedangkan permintaannya tetap karena jumlah penduduknya juga tetap,” ujarnya.

Bulog Cabang Cirebon sendiri menargetkan penyerapan gabah dan beras petani sepanjang 2026 mencapai 179.000 ton. Hingga saat ini, realisasinya telah mencapai sekitar 85 persen.

Di sisi lain, harga gabah yang relatif tinggi berpotensi mendorong kenaikan harga beras di pasar. Meski demikian, Bulog berupaya mengendalikan kenaikan harga tersebut agar tetap berada dalam batas yang wajar.

“Pasti, karena kondisi saat ini harga gabah saja sudah Rp8.000, otomatis berasnya juga akan naik,” kata Imam.

Imam menjelaskan, untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga, pihaknya mengandalkan sejumlah instrumen. Seperti, mendorong penyaluran bantuan pangan agar tepat waktu dan tepat sasaran, gerakan pangan murah (GPM), operasi pangan murah, serta kerjasama dengan pemerintah daerah dan Bank Indonesia.

“Dalam menjaga ketersediaan pangan, Bulog memprioritaskan penyerapan di wilayah sentra produksi, terutama Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Majalengka,” katanya.

Kedua daerah itu menjadi basis penyerapan, berbeda dengan Kota Cirebon yang memiliki lahan pertanian yang relatif terbatas. Sedangkan Kabupaten Kuningan memiliki produksi sepanjang tahun dengan volume yang lebih kecil.

Pihaknya mencatat, realisasi penyerapan gabah dan beras petani sepanjang 2026 telah mencapai sekitar 85 persen dari target tahunan yang ditetapkan untuk tahun ini mencapai 179.000 ton.

“Target kami 179.000 ton sepanjang tahun 2026. Saat ini sudah mencapai 85 persen kurang lebih. Jadi kami on track,” kata Imam.

Penyerapan gabah menjadi salah satu fungsi utama Bulog dalam menjaga ketersediaan pangan sekaligus memberikan kepastian pasar bagi petani.

Namun, proses penyerapan saat ini menghadapi tantangan karena harga gabah di tingkat petani mengalami peningkatan.

Imam mengatakan, Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Majalengka menjadi dua wilayah yang mendapat perhatian besar dalam penyerapan karena merupakan daerah dengan produksi relatif tinggi di wilayah kerja Bulog Kantor Cabang Cirebon.

Sementara Kota Cirebon memiliki lahan pertanian yang lebih terbatas. Kabupaten Kuningan juga memiliki pola panen yang berbeda karena sebagian wilayahnya berada di dataran tinggi, meski produksi yang dihasilkan relatif lebih kecil.

“Yang panennya banyak adalah Kabupaten Cirebon dan Majalengka. Ini yang kita jagakan sebenarnya menjadi konsentrasi kami,” ujarnya.

Wilayah kerja Bulog Kantor Cabang Cirebon sendiri mencakup Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka.

Selain menyerap hasil panen petani, Bulog juga menjalankan fungsi menjaga ketersediaan dan keterjangkauan pangan melalui jaringan pergudangan dan kerja sama distribusi.

Imam menyebut terdapat 10 kompleks pergudangan yang dikuasai Bulog di wilayah tersebut, ditambah 42 kompleks pergudangan yang merupakan hasil kerja sama dengan pihak lain.

Ketersediaan stok tersebut menjadi salah satu modal Bulog menghadapi potensi gangguan produksi pangan akibat kondisi cuaca. (Agus)