MAJALENGKA, (FC).- Pemerintah Kabupaten Majalengka menyatakan dukungan dan komitmen penuh terhadap pengusulan ulama besar asal Jawa Barat, K.H. Abbas Abdul Jamil, sebagai Pahlawan Nasional.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Majalengka Eman Suherman, saat menghadiri acara Seminar Nasional Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional K.H. Abbas Abdul Jamil yang digelar di Aula MA Unggulan Amanatul Ummah 02 Leuwimunding, Minggu (9/8).

Seminar yang diikuti berbagai tokoh masyarakat dan ulama se wilayah 3 Cirebon menghadirkan Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Ketua Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP), Prof Dr Usep Abdul Matin, dan Ketua Umum Pergunu Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA.

Dalam sambutannya, Bupati Majalengka mengapresiasi tinggi jajaran panitia, Pimpinan Pusat Pergunu, serta para narasumber yang hadir. Ia menegaskan bahwa perjuangan memperjuangkan gelar Pahlawan Nasional bagi sosok yang dijuluki “Singa dari Jawa Barat” ini bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan upaya meneguhkan jati diri bangsa.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Majalengka, saya menyatakan dukungan dan komitmen penuh terhadap upaya pengusulan KH. Abbas Abdul Jamil sebagai Pahlawan Nasional. Perjuangan ini adalah perjuangan Jawa Barat, dan menjadi kebanggaan kita bersama,” ujar Bupati Eman Suherman.

Bupati memaparkan rekam jejak K.H. Abbas Abdul Jamil sebagai pengasuh Pondok Pesantren Buntet Cirebon yang tampil di garis terdepan memimpin laskar santri Jawa Barat saat menyambut seruan Resolusi Jihad.

Beliau memimpin pertempuran mempertahankan kemerdekaan pada 10 November 1945 di Surabaya. Selain sebagai pejuang, K.H. Abbas juga dikenal sebagai pelopor pembaruan pendidikan pesantren berilmu pengetahuan umum sejak dekade 1920-an.

Berdasarkan telaah Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP), K.H. Abbas Abdul Jamil merupakan salah satu dari 38 calon pahlawan nasional yang dinyatakan memenuhi syarat dengan data historis paling utuh berbasis sumber primer.

Oleh karena itu, Bupati menekankan pentingnya forum akademik seperti seminar dan bedah buku untuk memperkuat argumentasi ilmiah dan meluaskan publikasi ke masyarakat.

“Buku yang kita bedah hari ini bukan sekadar lembaran kertas, melainkan ikhtiar peradaban untuk menempatkan seorang pahlawan pada tempat yang selayaknya,” tegasnya.

Di akhir sambutannya, Bupati mengajak seluruh generasi muda dan santri untuk meneladani nilai-nilai Hubbul Wathan Minal Iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman) yang diajarkan oleh K.H. Abbas Abdul Jamil.

Sementara Prof KH Asep Saifuddin Chalim putera dari Pahlawan Nasional KH Abdul Chalim ini, perjuangan mengusulkan KH Abbas sebagai Pahlawan Nasional bukan semata-mata untuk memberikan gelar kepada seorang tokoh.

Karena KH Abbas dan KH Abdul Chalim (ayahnya) merupakan sahabat seperjuangan yang berjuang untuk kemerdekaan tanpa mengharapkan penghargaan.

“KH Abbas dan KH Abdul Chalim adalah sahabat seperjuangan yang tidak mencari gelar. Keduanya berjuang untuk kemerdekaan, bukan untuk dikenang.Tapi sebagai generasi penerus, kita wajib menghormati jasa beliau,” kata Kiai Asep.

Kondisi itu kemudian mendorong dilakukannya penguatan penelitian dengan menghimpun para akademisi dan sarjana untuk menelusuri sumber-sumber sejarah, khususnya sumber primer.

“Insya Allah, dengan lebih dari 67 sumber primer yang telah kami kumpulkan, tahun ini KH Abbas layak dan harus diakui sebagai Pahlawan Nasional,” ujar Kiai Asep.

Dia menilai pengakuan terhadap KH Abbas bukan hanya menjadi penghormatan bagi seorang tokoh, tapi juga kebanggaan bagi masyarakat Cirebon, Majalengka dan Jawa Barat. (Munadi)