KOTA CIREBON, (FC).- Kasultanan Kasepuhan Cirebon melangsungkan tradisi Apeman di Langgar Alit komplek Keraton Kasepuhan, Sabtu (1/8) kemarin.

Tradisi yang khas dengan kue Apem itu biasa dilangsungkan pada Bulan Safar dalam kalender Hijriah, sekaligus sebagai penanda rangkaian tradisi menuju puncak Maulid Nabi Muhammad SAW atau Muludan.

Patih Sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon, PRA Goemilar Soeriadiningrat menjelaskan, tradisi Apeman memiliki makna sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, sekaligus doa bersama agar masyarakat senantiasa mendapat perlindungan dari berbagai musibah.

“Makna Apeman itu adalah sebagai wujud syukur kita kepada Allah SWT. Kita bersama-sama berdoa meminta perlindungan kepada Allah SWT dari tolak bala atau marabahaya,” ungkap Goemilar, Selasa (4/8).

Menurutnya, tradisi tersebut juga berkaitan dengan pandangan masyarakat mengenai bulan Safar yang identik dengan berbagai musibah. Namun, ia menegaskan bahwa doa dan permohonan perlindungan kepada Allah tidak terbatas pada waktu tertentu.

Dalam tradisi Apeman, keluarga besar Keraton Kasepuhan Cirebon, para sesepuh, wargi, dan para abdi dalem berkumpul dan memanjatkan doa. Di akhir prosesi, mereka bersama-sama menyantap kue Apem.

Selain Apeman, Keraton Kasepuhan juga akan menggelar sejumlah tradisi adat yang berlangsung sejak bulan Safar hingga puncaknya pada 12 Mulud yang bertepatan 26 Agustus 2026.

Goemilar mengatakan, seluruh rangkaian tradisi tetap dilaksanakan sebagai bagian dari warisan budaya sekaligus bentuk penghormatan terhadap tradisi yang telah berlangsung turun-temurun.

“Insya Allah tetap melaksanakan tradisi yang tadi disampaikan, yaitu Apeman. Rangkaian peringatan Maulid Nabi itu satu rangkaian di bulan Safar yang diawali beberapa tradisi, salah satunya Buka Bekaseman Ikan yang dilaksanakan tanggal 5 Safar,” ujar Goemilar.

Lebih lanjut Goemilar menjelaskan, Bekaseman Ikan akan kembali dibuka pada 5 Mulud sebagai bagian dari rangkaian Siraman Panjang.

Tradisi Siraman Panjang merupakan prosesi pencucian piring atau benda peninggalan Sunan Gunung Jati yang kemudian akan diarak pada puncak peringatan Maulid Nabi pada 12 Mulud.

“Siraman Panjang adalah pencucian piring atau peninggalan dari Sunan Gunung Jati yang insya Allah akan diarak di puncaknya pada tanggal 12 Mulud yang jatuh pada 26 Agustus,” katanya.

Selain itu, Keraton Kasepuhan juga akan menggelar tradisi Gerboan selama bulan Safar. Tradisi tersebut berupa pelaburan atau pengecatan menggunakan tanah merah di kawasan Siti Inggil, tembok-tembok Pustaka Kasepuhan, hingga Keraton Dalam Agung Pakungwati.

“Jadi ada beberapa rangkaian atau acara yang nanti insya Allah di bulan Mulud sampai puncaknya,” katanya.

Dalam rangkaian menyambut Mulud, Keraton Kasepuhan juga akan menggelar Rebo Wekasan pada 13 Agustus. Kegiatan tersebut akan diisi dengan sedekah kepada masyarakat sebagai bentuk kepedulian sosial.

“Pada tanggal 13 Agustus kita akan memberikan sedikit rezeki kepada masyarakat dari keraton,” pungkasnya. (Agus)