Nelayan Citemu Pakai Cold Storage Surya, Biaya Melaut Lebih Hemat
KAB.CIREBON, (FC).- Nelayan Desa Citemu, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, kini memiliki fasilitas baru untuk meningkatkan efisiensi usaha tangkap.
Cirebon Power meresmikan cold storage bertenaga surya yang dirancang untuk menekan biaya operasional melaut sekaligus menjaga kualitas hasil tangkapan.
Fasilitas senilai sekitar Rp2 miliar tersebut merupakan bantuan dari Tokyo Metropolitan Government melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) Cirebon Power).
Cold storage berbentuk kontainer berukuran 20 kaki itu menggunakan 30 panel surya dengan sistem off-grid, sehingga dapat beroperasi mandiri tanpa bergantung pada jaringan listrik maupun genset.
Direktur Utama Cirebon Power, Hisahiro Takeuchi, mengatakan kehadiran fasilitas tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui pemanfaatan energi terbarukan.
“Fasilitas ini diharapkan dapat membantu nelayan mengurangi biaya operasional sekaligus menjaga kualitas hasil tangkapan agar memiliki nilai jual lebih tinggi,” ujar Takeuchi saat peresmian di Desa Citemu, Rabu (22/7).
Berbeda dengan cold storage pada umumnya yang digunakan untuk menyimpan ikan, fasilitas tersebut difungsikan untuk membekukan ice pack yang nantinya digunakan nelayan saat melaut sebagai pengganti es balok.
Sebanyak sekitar 160 unit ice pack dapat dibekukan hingga suhu minus 16 derajat Celsius. Nelayan tidak lagi harus membeli es balok setiap kali berangkat melaut, sehingga biaya operasional dapat ditekan.
Selama ini, nelayan Citemu harus mengeluarkan biaya sekitar Rp40 ribu untuk satu balok es dalam setiap perjalanan melaut. Pengeluaran tersebut menjadi salah satu beban biaya selain bahan bakar dan kebutuhan anak buah kapal (ABK).
Ketua Kelompok Nelayan Desa Citemu, Sutirno, menyambut positif keberadaan fasilitas tersebut. Menurutnya, penggunaan ice pack mampu memberikan penghematan sekaligus meningkatkan kualitas hasil tangkapan.
“Dengan ice pack, kami tidak perlu lagi membeli es balok. Biaya melaut bisa berkurang sehingga pendapatan nelayan diharapkan meningkat,” katanya.
Selain lebih hemat, penggunaan ice pack juga membuat hasil tangkapan seperti ikan, rajungan, dan udang tetap terjaga kualitasnya. Pasalnya, hasil tangkapan tidak terendam air akibat pencairan es sehingga kondisi ikan lebih segar dan memiliki tampilan lebih baik saat dijual.
“Nilai jual hasil tangkapan juga bisa meningkat karena kualitasnya lebih terjaga,” ujar Sutirno.
Dari sisi operasional, fasilitas tersebut memanfaatkan energi matahari yang disimpan dalam baterai berkapasitas 215 kWh. Dengan kapasitas panel surya mencapai 27.500 Wp, cold storage dapat beroperasi secara mandiri dengan biaya operasional yang lebih rendah.
Kuwu Desa Citemu, Herintiano, mengatakan pihaknya bersama kelompok nelayan akan segera menyusun mekanisme pengelolaan fasilitas tersebut agar pemanfaatannya berjalan optimal dan dapat dirasakan seluruh nelayan.
“Kami akan membentuk tim pengelola, termasuk mengatur distribusi ice pack agar pemanfaatannya merata bagi nelayan,” katanya.
Sementara itu, perwakilan Go Power, Tsuzuki Arata, berharap inovasi tersebut dapat menjadi contoh penerapan teknologi energi bersih untuk mendukung masyarakat pesisir di berbagai daerah.
“Teknologi ini diharapkan membantu nelayan mengurangi biaya operasional, meningkatkan kualitas hasil tangkapan, dan mendorong peningkatan pendapatan,” ungkapnya.
Kehadiran cold storage tenaga surya di Desa Citemu menjadi langkah baru dalam pengembangan sektor perikanan berbasis energi terbarukan. Selain memberikan manfaat ekonomi bagi nelayan, fasilitas tersebut juga mendukung konsep usaha perikanan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. (Nawawi)



Tinggalkan Balasan